Mesmerizing Istanbul

IMG_0965

Perjalanan saya di Turki pun berlanjut ke Istanbul, kota dengan penduduk terbanyak di Turki. Bahkan karena saking terkenalnya Istanbul, kota ini sering disalah pahami sebagai ibukota Turki. Padahal ibukota Turki adalah Ankara.

Sebenarnya, saat pertama kali menjejakkan kaki di Turki, saya mendarat di Istanbul Ataturk Airport di kota Istanbul. Namun karena schedule tur, saya harus mengelilingi kota lain dulu dan kemudian mampir di Istanbul semalam sebelum kembali ke Jakarta lewat bandara yang sama.

Blue Mosque: The Not-So-Blue Mosque

IMG_4296

Karena waktu menginap yang hanya satu malam, maka perjalanan saya di Istanbul cukup padat. Setelah tiba di Istanbul, saya dan rombongan langsung mengunjungi salah satu masjid ikonik di Turki, bahkan di seluruh dunia, yaitu Sultan Ahmed Mosque or known as the Blue Mosque. Sebelum memasuki masjid, setiap pengunjung diwajibkan untuk menggunakan pakaian sopan, bahkan harus menutup kepala mereka dengan jilbab. Bagi yang tidak memakai jilbab, tenang aja, ada peminjaman jilbab gratis kok.

Saat memasuki masjid, saya takjub banget. Air mata rasanya udah mau jatuh. Ga lebay kok, asli. Biasanya saya cuma baca tentang masjid ini di buku, salah satunya adalah buku 99 Cahaya di Langit Eropa. But now, I’m here. I am really there. Karena saya saat itu sedang tidak shalat, maka saya cukup memanjatkan doa, bersyukur atas segala rejeki yang diberikan dan berdoa semoga suatu saat saya bisa kembali lagi dan beribadah di dalam masjid yang megah ini.

Interior di dalam masjid ini memang megah. Saat saya menengadah, keramik kubah yang di dominasi warna biru terlihat sangat indah. Tapi ternyata Blue Mosque ini ga ‘sebiru’ yang saya bayangkan sih. Kubahnya sendiri pun ga cuma satu, jadi bisa kebayang kan betapa indahnya interior masjid ini. Selain itu, chandelier yang super besar pun semakin mempercantik interior masjid.

IMG_4321

IMG_4332

Blue Mosque ini pun dikenal dengan minaretnya yang berjumlah enam. Namun ternyata ada kisah unik dibalik minaret tersebut. Menurut cerita tour guide saya, masjid pada umumnya hanya memiliki 2 atau 4 minaret saja, namun Blue Mosque ini memiliki 6 minaret. Rumornya, 6 minaret ini merupakan kesalahan dari arsitek yang salah paham akan perintah Sultan yang berkata untuk membuat gold (altin) minarets. Nah si arsitek ini menyangka kalau Sultan memerintahkan untuk membuat six (alti) minarets. Hahaha pantes salah paham, dalam bahasa Turki kedua kata tersebut kedengarannya sama sih :p

IMG_4509

Hippodrome of Constantinople 

Setelah berkunjung ke Blue Mosque, saya pun kemudian berjalan kaki ke Hippodrome of Constantinople yang berlokasi sangat dekat dengan Blue Mosque. Hippodrome ini pada dasarnya adalah sebuah obelisk monuments yang saya ga paham itu fungsinya apa. Maklum, pas lagi dijelasin saya sibuk foto-foto di taman karena memang lokasi Hippodrome ini terletak di tengah taman.

IMG_4370

Basilica Cistern

Saya pun kemudian melanjutkan kunjungan ke Basilica Cistern yang cukup dijangkau dengan berjalan kaki dari Hippodrome. Saat itu, Basilica Cistern cukup ramai dikunjungi orang. Untungnya saya ikut tur, jadi ga perlu lagi ngantri-ngantri beli tiket hehehehe. Basilica Cistern ini pada saat dahulu kala merupakan tempat penyimpanan air dan dapat menampung 100,000 ton air. Namun saat ini, air di dalam Basilica hanya berada di dalam kolam dengan tinggi tidak sampai 1 meter, sehingga memperlihatkan pilar-pilar megah. Gila ya, tempat penyimpanan air aja keren banget! Di Basilica Cistern ini, fellow travelers juga bisa melihat pilar kepala Medusa loh.

IMG_4389 IMG_4403

Tempat ini terkesan gelap dengan penerangan remang-remang berwarna kuning untuk menonjolkan pilar. Karena itu, fellow travelers yang berkunjung ke sini harus hati-hati, apalagi jalannya yang cukup licin.

Hagia Sophia: Church -> Mosque -> Museum

Destinasi terakhir sebelum makan malam dan kembali ke hotel adalah Hagia Sophia. Lagi-lagi saya awalnya tau tempat bersejarah ini dari buku 99 Cahaya di Langit Eropa. Letaknya berseberangan dengan Blue Mosque, jadi masih bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Asik ya di Istanbul dari tempat wisata ke tempat wisata lainnya bisa jalan kaki? Sebelum masuk, kami diberikan earphone untuk mendengarkan segala instruksi dan penjelasan dari tour guide.

IMG_0963

Hagia Sophia ini pada awalnya dibangun sebagai gereja ortodoks utama di masa Konstantinopel. Saat Konstantinopel jatuh ke tangan Dinasti Usmaniyah, Hagia Sophia berubah menjadi masjid, dan pada akhirnya saat ini Hagia Sophia dijadikan museum oleh pemerintah setempat. Tak heran, interior Hagia Sophia merupakan percampuran antara unsur-unsur Kristiani dan Islam dengan ciri khas arsitektur Byzantium. Di satu sisi, fellow travelers bisa melihat mozaik Yesus Kristus dan tokoh-tokoh terkenal Kristiani lainnya yang tersusun dari keramik. Di lain sisi, fellow travelers bisa melihat kaligrafi Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan juga para sahabat nabi.

IMG_4493

IMG_4470

Sisa-sisa kejayaan masjid Hagia Sophia pun masih terlihat jelas, seperti mihrab, tempat adzan muadzin, hingga tempat wudhu berbentuk guci raksasa. Namun yang paling menarik saya adalah kaligrafi lafadz  Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW yang terletak tepat di tengah-tengah bangunan. Lagi-lagi keindahan yang membuat saya nyaris meneteskan air mata (ditahan-tahan sih, malu soalnya :p).

IMG_4434

Setelah puas berkeliling lokasi-lokasi wisata yang jaraknya berdekatan, saya dan rombongan pun berjalan kaki ke sebuah restoran yang terletak di sebuah gang yang cukup besar. Kali ini, kami mendapat jatah untuk makan di restoran Korea yang bernama Seoul Restorant! Yeaaah, finally Asian cuisine!  Menurut saya, this restaurant deserve a shout out (at least from me) because their foods are just deliciously tasty! Kami disajikan berbagai makanan khas Korea, mulai dari kimchi, sop rumput laut, ikan goreng khas, daging tumis, hingga ayam asam manis. Asli ga boong, masakannya enak banget. Saya aja sampe sekarang masih ngiler kalo nginget masakannya 😦

Time to Shop in Taksim Square!

Perut kenyang, sekarang saatnya kami menuju ke hotel untuk beristirahat. Hotel yang saya tempati bernama Grand Halik Hotel dan letaknya ga jauh dari Taksim Square, salah satu pusat perbelanjaan di Istanbul. Karena tau hotelnya ga jauh dari pusat perbelanjaan, saya pun ga mau menyiakan-nyiakan waktu dan langsung capcus ke Taksim Square dengan berjalan kaki. Padahal waktu itu lagi hujan dan udaranya dingin banget sampai menggigil.

Taksim Square itu bentuknya jalanan panjang, kayak Orchard di Singapore gitu deh. Bedanya, Taksim Squre dikelilingi pertokoan, bukan mall kayak di Orchard dan semua orang harus berjalan kaki. Lucunya, ada trem yang beroperasi sepanjang jalan. Jadi, yang ga mau capek, bisa dicoba tuh naik trem. Di Taksim Square ini, hampir semua international brand lengkap tersedia. Mulai dari yang high end sampe yang biasa-biasa aja, adaaa semuanya. Serunya, harga barang-barang di Turki sama di Indonesia itu beda jauh. Misalnya aja, coat di Mango kalau di Indonesia harganya bisa sampe jutaan rupiah, di Turki harganya paling mahal 500 ribu rupiah aja. Mayan kan setengah harga?!

Malam itu saya sih ga belanja cuma window shopping aja sambil ngeliatin orang-orang yang Turki yang kece. Yang sempet saya bawa pulang itu hanya kebab Turki, itu pun dibeliin rekan serombongan, bukan beli sendiri hahaha. Abis, harga kebab lumayan mahal, mending buat makan Burger King dapet sepaket :p

IMG_1019

Waktu saya di Istanbul pun masih ada sehari lagi, sebelum kembali ke tanah air pada tengah malam waktu Turki. Lumayan deh, masih ada setengah hari keliling Turki. Tujuan pertama saya pagi itu adalah kembali ke Taksim Square. Kali ini saya sih ga menyia-nyiakan kesempatan untuk belanja. Salah satu retail shop favorit saya di Turki adalah De Facto. Di toko ini, saya sampe beli 4 sweater, 1 boots, 2 kuteks, dan 1 hand cream. Harga sweater ga sampe 200 ribu. Boots yang saya beli harganya ga sampe 300 ribu, kuteks dan hand cream aja harganya cuma 5 ribu rupiah! Nyesel saya kenapa ga beli banyak. Selain itu, saya juga sempet ke drugstore semacam Guardian buat liat-liat make up. Harganya pun jauh lebih murah dibanding di Indonesia. Rasanya pengen borong tapi apadaya cuma mampu beli 1 lipstik dan 1 kuteks.

Cruisin’ Between Europe and Asia

Abis puas belanja, jadwal berikutnya adalah Bosphorus Cruise! Yippie, akhirnya saya akan melewati tengah-tengah benua, antara Asia dan Eropa. Karena kami rombongan, maka kami pun mendapatkan private cruise yang isinya cuma rombongan kami saja. Tapi jangan bayangin cruise ala ala yang super gede dan ada kolam renang segala macem. Cruise yang dimaksud disini cuma speedboat aja hehehe. Kami menyusuri Bosphorus Strait selama kurang lebih 1 jam. Di perjalanan, fellow travelers bisa melihat Bosphorus Bridge yang terkenal itu dan bangunan-bangunan bersejarah Istanbul lainnya.

IMG_0993

IMG_4557

Emotional moment at Topkapi Palace

Berikutnya, saya dan rombongan beranjak ke Topkapi Palace, yaitu istana tempat tinggal Sultan Usmaniyah selama lebih dari 600 tahun dan juga merupakan pusat pemerintahan Turki Usmani dulu. Saat memasuki komplek Topkapi Palace, saya dipukau oleh koridor luar ruangan yang dikelilingi oleh pohon-pohon gugur khas musim dingin dan taman-taman yang indah. Suasananya bagus banget, jadi saya pun langsung foto-foto.

IMG_4608

Topkapi Palace ini besar banget dan terdiri dari beberapa ruangan. Ruangan yang pertama kali saya masuki adalah ruangan dimana benda-benda bersejarah jaman Turki Usmani disimpan, seperti gelas, bros, dan pedang. Namun karena pengunjung yang cukup padat, saya harus rela mengantri untuk melihat benda-benda tersebut. Setelah itu, kami pun keluar dan menuju ke area belakang Topkapi Palace yang menyajikan pemandangan Bosphorus Strait.

Ruangan terakhir yang saya kunjungi adalah Holy Relics, yaitu tempat penyimpanan barang-barang peninggalan Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat. Untuk memasuki ruangan ini, antriannya panjang banget. Tapi saya rela ngantri demi melihat sejarah peninggalan Islam itu. Saya pun akhirnya berhasil melihat kunci Ka’Bah, pembungkus hajar aswad, tongkat Nabi Musa, sorban Nabi Yusuf, pedang para sahabat Nabi, jubah Fatimah, hingga telapak kaki dan jenggot Nabi Muhammad SAW. Suasana ditambah syahdu dengan alunan Qur’an yang diputar di ruangan itu. Subhanallah, kali ini saya ga mampu lagi nahan tangis. Buyar deh buyar. Alhamdulillah saya bisa menyaksikan semua itu 🙂

IMG_1028

Souvenir hunting in Grand Bazaar

Tujuan terakhir saya sebelum ke bandara adalah Grand Bazaar! Ini dia tempat yang wajib didatangi setiap wisatawan yang berkunjung ke Istanbul. Di sini, wisatawan bisa puas belanja berbagai macam souvenir dan barang-barang khas Turki. Walaupun bazaar artinya adalah pasar, tapi jangan bayangin tempat ini kayak pasar tradisional di Indonesia. Grand Bazaar ini keren banget karena ditopang oleh pilar-pilar raksasa dan langit-langit yang penuh dengan lukisan dan mozaik keramik.

IMG_4627

Di Grand Bazaar ini, saya ga terlalu banyak belanja karena memang kurang tertarik sama souvenir. Saya sendiri cuma beli gantungan kunci dan gelang berbentuk devil’s eye. Si Bunda kekeuh pengen beli lampu keramik khas Turki dan adik saya beli syal Galatasaray. Kalau belanja di Grand Bazaar ini ga ada salahnya juga sih tawar menawar, bahkan bisa ditawar sampai 75% dari harga awal. Tapi kadang-kadang ada juga penjual yang ngeselin dan langsung marah-marah begitu barangnya kita tawar.

IMG_4630 IMG_4636

Dari Grand Bazaar, bus kami pun melaju menuju Istanbul Ataturk Airport untuk mengantar kami kembali ke tanah air. Tak lupa, saya berpamitan dengan tour guide saya selama di Turki, Pak Fahri. Görüşürüz, Turkiye! I will be back soon 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s