Failed Holiday in Bali

2 hari setelah kembali dari Turki, tepatnya tanggal 1 Februari lalu, saya kembali melakukan perjalanan. Saya sempat disindir sama temen-temen saya karena saya kebanyakan jalan-jalan dan dibilang ‘sosialita’. Padahal aku mah apa atuh.. Mesen tiket perjalanan ini udah lama banget, mungkin 8 bulan sebelumnya, bahkan sebelum memutuskan untuk ke Turki. Sebenarnya sih agak males karena masih capek, tapi masa dibatalin gitu aja sih?

Destinasi saya kali ini adalah Pulau Dewata. Yup, you heard it right. Baleeeehhhh! Terakhir saya ke Bali adalah saat tahun baru 2006. Lama banget kan? Hampir 10 tahun akhirnya saya kembali lagi ke Bali. Sebelum berangkat, saya punya banyak banget plan, terutama mampir ke cafe sama beach club ala-ala yang lagi happening di Bali. Nih itinerary yang saya buat waktu itu…

Day 1

  • Kuta Beach
  • Bali Bomb Memorial
  • Legian Beach
  • Seminyak, Petitenget, Double Six Beach (Nyobain cafe lucu-lucu semacam Biku, Motel Mexicola, Salty Seagull, dan Mykonos)
  • Pandawa Beach
  • Garuda Wisnu Kencana

Day 2 – Nusa Lembongan

  • Cliff jump di Nusa Ceningan
  • Kongkow ala ala di Le Pirate Beach Club (beach club ini juga ada hotelnya, asli lucu banget. Google it!)

Day 3 – Ubud

  • Goa Gajah
  • Gunung Kawi
  • Tirta Empul
  • Blanco Renaissance Museum
  • Tegallalang Rice Field
  • Monkey Forest
  • Pasar Sukowati

Itulah plan yang telah saya buat capek-capek dengan harapan setidaknya 70% dari planning tersebut tercapai. Taunyaaaa beginilah hasil jalan-jalan saya di Bali selama 4 hari…

Day 1

Karena cuma jalan-jalan berdua sama si Bunda, kita akhirnya memutuskan untuk sewa motor aja. Sayang kan kalau sewa mobil plus supir, isinya cuma berdua. Belum bensinnya dan uang parkir. Sewa motor di hotel, kalau ga salah sih tarifnya Rp 50.000 per 24 jam.

Bangun pagi-pagi langsung berangkat ke Kuta, karena setidaknya dari situ arah jalan lebih terlihat pasti. Untungnya, hotel kita ga begitu jauh dari Kuta. Sampai di Kuta, bingung mau kemana dan berujung nongkrong di convenience store. Di Kuta pun cuma sebentar karena tiba-tiba saya merasa malas untuk main di pantai, apalagi di Kuta yang saat itu cukup ramai dan cukup panas.

Menjelang siang, saya yang ngidam sushi pun memutuskan untuk mencari Sushi Tei. Menurut Google sih, yang paling dekat letaknya di Sunset Road. Berbekal GPS di handphone, akhirnya kita meluncur ke Sushi Tei. Pas sampe, restorannya tuh satu gedung sendiri dan terlihat luxurious dari depan. Si Bunda sampe was-was buat masuk karena dikiranya itu restoran fine dining dan harganya beda sama Sushi Tei di Jakarta. Padahal mah sama aja. Tapi emang restorannya bagus dan besar banget.

Setelah kenyang sushi, kita pun langsung tancap motor ke Pandawa. Berbekal perkataan orang-orang di Google dan GPS yang bilang kalau perjalanan kurang lebih memakan waktu 30 menit. Tapi ternyata perjalanan bukan 30 menit saudara-saudara, rasanya jauuuh banget. Mungkin karena pakai motor dan udara panas banget, ditambah sebentar-sebentar berhenti buat ngecek GPS, makanya perjalanan jadi sejam lebih.

Setelah sampai di pintu gerbang Pandawa, kita harus membayar Rp 5.000 untuk retribusi masuk tempat wisata. Sepanjang perjalanan masuk ke Pantai Pandawa, kami menyusuri tebing-tebing batu tinggi. Keren deh. Sebelum turun ke pantai, kita pun berhenti dulu di tulisan Pantai Pandawa dan patung dewa-dewi hindu.

Ini pertama kalinya saya ke Pantai Pandawa. Saya pun takjub melihat kebersihan pantai ini, airnya biru, pasirnya putih tanpa terlihat sampah sedikit pun. Apalagi pantai ini masih sepi karena katanya sih belum banyak orang yang tahu. Berasa private beach. Selain itu, lokasinya yang cukup terpencil membuat orang-orang malas kali ya dateng kesini.

Buat yang mau leyeh-leyeh, di Pantai Pandawa juga ada beach chair beserta payung-payungnya. Untuk harga sewa, saya ga tau karena waktu saya kesana, si Bunda terlalu malas mengeluarkan uang untuk nyewa kursi pantai. Di Pantai Pandawa pun kita cuma numpang foto-foto sebentar dan akhirnya pulang karena takut kesorean.

Karena perjalanan pulang dari Pandawa melewati Garuda Wisnu Kencana (GWK), kita pun memutuskan untuk mampir. Saya sendiri pun belum pernah ke GWK, apalagi katanya ada pertunjukan kecak gratis, jadi sayang dong dilewatkan.

Harga tiket masuk GWK cukup mahal, yaitu Rp 50.000 per orang. Tapi lumayan lah bisa ngeliat tari kecak gratis hehehe. Pas sampai, pertunjukan tari kecak di amphitheater belum mulai, jadi kita foto-foto dulu di lapangan. Sebenarnya sih saya pengen banget foto sama si Wisnu, tapi si Bunda ga mau nemenin ke atas karena harus naik tangga lumayan tinggi. Masa sendirian sih? Terus yang fotoin siapa? 😦

Setelah terdengar bunyi-bunyian dari amphitheater, kita pun langsung segera menuju ke lokasi pertunjukan tari kecak. Di sana sudah cukup ramai oleh beberapa wisatawan, apalagi ada rombongan study tour anak SMA, makin ramai lah suasana. Pertunjukkannya cukup lama, kurang lebih 1 jam. Tapi menurut saya, tariannya masih agak kurang greget. Berbeda sama pertunjukan tari kecak di pura-pura yang sering saya tonton di TV.

Pertunjukkan selesai menjelang maghrib, saat keluar dari amphitheatre kita disambut oleh cuaca yang cerah, temaram lampu sorot, dan bintang-bintang yang bertaburan di langit. Ah indahnya ❤

Day 2

Pagi-pagi banget, kita berangkat ke Ubud. Naik motor. Yes, naik motor. Berbekal GPS dan info dari Google yang katanya ke Ubud paling sejam naik motor, akhirnya kita memilih naik motor. Lagi-lagi infonya salah. Perjalanan waktu itu kurang lebih memakan waktu dua jam. Asli capek banget, pantat panas dan pegal.

Di Ubud, kita udah booked kamar di Agoda, jadi ga perlu cari-cari hotel lagi setelah capek perjalanan panjang. Saya kalau booking kamar di Agoda, yang pertama dilihat itu harganya. Setelah harga sesuai, saya selalu baca-baca review dan rating hotelnya. Trauma dapet harga murah tapi hotel busuk di Singapore soalnya hahaha.

Oh iya, sebenarnya saya selama ini di Bali ini tinggalnya di guest house, bukan hotel. Maklum lah cewe-cewe kere dan ga punya duit abis pulang dari Turki. Di Ubud, kita nginep di Rico Amerta Guest House, kalo diliat dari foto sih lumayan bagus dan bersih, ratingnya juga very good. Apalagi harganya, cuma Rp 182.000 saja per malam.

Setelah tidur siang, kita pun melanjutkan perjalanan ke Tegalalang Rice Field. Untuk mencapai kesana sih ga sulit, karena lurus aja terus dari pusat kota Ubud. Perjalan kurang lebih 45 menit lah. Sampai di Tegalalang, yaudah liat rice terrace doang dari view point di pinggir jembatan, ga sampe 5 menit foto-foto terus pulang.

Kembali lagi ke Ubud, saya pun mampir jajan gelato di pinggir jalan. Terus nyebrang ke Ubud Palace atau Puri Saren Ubud sambil foto-foto dan istirahat sejenak. Setelah itu, saya pun jalan-jalan di sepanjang Monkey Forest yang banyak toko ituloh. Sayang waktu itu saya gagal ke Monkey Forest, padahal seumur-umur ke Bali belum pernah ke Monkey Forest. Alasan gagalnya sih lagi-lagi si Bunda, doi ketakutan sama monyet.

Day 3

Karena belum punya tujuan, kita bangun agak siang. Setelah berdebat cukup panjang, akhirnya diputuskanlah untuk ke Blanco Renaissance Museum. Harga tiket masuk ke Blanco Museum kalau tidak salah Rp 30.000,- per orang. Tapi sudah dapat kupon welcome drink yang bisa ditukarkan di restorannya, Rondji Restaurant. View dari Rondji Restaurant ini cukup bagus loh, ambiance restorannya juga tenang dengan alunan musik-musik Bali yang menenangkan.

Memasuki area museum, saya cutup terkesan karena rindangnya pepohonan dan asrinya taman, Bahkan kita bisa foto sama burung-burung. Sayangnya, di dalam museum kita ga bisa foto-foto. Koleksinya sih bagus-bagus banget. Ga cuma lukisannya yang bagus, tapi frame lukisannya pun bagus. Di balik setiap lukisan pasti ada ceritanya atau teka-teki yang diberitahukan oleh penjaga museum.

Pengunjung baru diperbolehkan foto-foto di luar ruang eksibisi lukisan. Salah satu ruang yang dibolehkan foto-foto adalah ruang lukis Antonio Blanco, yang sekarang dipergunakan oleh anaknya, Mario Blanco. Saya sendiri lupa foto-foto di ruang lukis dan malah foto di depan pintu Bali yang khas.

Setelah puas keliling Blanco Museum, kita pun memutuskan untuk kembali ke Kuta dan tidak lupa mampir ke Pasar Sukowati karena memang masih satu arah. Di Pasar Sukowati, saya cuma beli beberapa pasang sandal Bali untuk oleh-oleh. Sandal ini memang khas dengan hiasan manik-manik dan murah, cuma Rp 10.000 per pasang. Selain itu, saya beli celana pendek dan beberapa gelang tali. Yang hebohnya, si Bunda ga mau rugi sampai beli 2 lukisan sekaligus. Saya pun waktu itu sempat kesal. Bayangin aja, naik motor dan banyak barang bawaan, masih sempet beli lukisan, 2 pula 😦

Dengan tergopoh-gopoh dan ketakutan karena takut lukisannya terbang, kita pun survived sampai di Kuta lagi setelah perjalanan 2 jam. Ga lagi-lagi deh naik motor dari Kuta ke Ubud…

Setelah istirahat, sore harinya kita pun keluar lagi untuk jalan-jalan di sekitar Kuta dan Seminyak. Niatnya sih pengen mampir ke Sea Circus, bahkan udah parkir. Tapi ternyata si Bunda lagi-lagi menggalkan rencana karena gamau makan ala ala gitu. Yaudah deh akhirnya mampir ke pusat oleh-oleh Krisna, belanja pie susu dan oleh-oleh. Setelah itu, kita pun mampir di Pantai Kuta untuk menikmati sunset di malam terakhir kami di Bali.

Last note: dari segitu banyak tujuan wisata dan tempat makan yang saya udah plan, ternyata cuma kesampean 30% dari rencana-rencana tersebut. Kebanyakan alasannya karena Bunda yang gamau kemana-mana. Saya sendiri udah kekeuh pengen ke Nusa Lembongan, karena ngeliat di foto-foto, pantainya bagus banget dan air lautnya biru. Si Bunda pun beralasan gamau naik kapal dan takut ombak gede. Padahal mah lagi hujan juga engga, dia aja yang parno sendiri 😦

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s