Central Java Road Trip: Sekali Merengkuh, Dua Tiga Kota Disinggahi

Saya sudah bilang kan kalau saat saya ke Karimun Jawa, saya melakukan road trip alias perjalanan darat? Awalnya, saya males pas diajak road trip, males kelamaan duduk, males nungguin sampenya, males berhenti-berhenti buat pipis atau makan, dan malas-malas lainnya. Tapi ya mau gimana lagi, emang pada mau jalan darat. Alasannya, tentu saja bisa mampir ke beberapa kota sekaligus dalam satu kali perjalanan.

Perjalanan saya tempo itu dimulai jam 3 sore, setelah mampir dulu ke kampus untuk ngumpulin berkas demi mengejar gelar sarjana. Setelah itu, mobil pun langsung meluncur ke arah Tol Cikampek untuk kemudian mengarah ke Tol Cikapali. Ya, karena keberadaan Tol Cikapali inilah perjalanan ke Jawa menjadi semakin mudah dan cepat. Cirebon yang dulunya ditempuh selama sekitar 5 jam dari Jakarta, kini bisa ditempuh selama 3 jam saja.

First Stop: Semarang

Hari itu, kami berencana untuk langsung mengarah ke Semarang. Meskipun sempat pesimis bisa sampai Semarang malam itu juga karena macet, hujan deras di wilayah Tegal, sampai ketakutan lewat Pantura malem-malem. Tapi akhirnya kami sampai juga di Semarang sekitar jam 12 malam. Untungnya kami sudah pilih-pilih penginapan di Booking.com sebelumnya. Dapatlah kami Mister Stay Inn di wilayah Kumudasmoro. Penginapannya sih kayak rumah gitu, semacam residence lah. Tapi kamarnya lumayan gede. Dan yang paling penting bersih. Harganya pun murah dengan fasilitas yang lumayan, yaitu hanya sekitar Rp 170.000 saja.

Keesokan paginya, kami punya waktu sepanjang hari untuk keliling kota Semarang sebelum lanjut ke Jepara. Tujuan pertama saya tentunya adalah Bandeng Juwana! Letak Bandeng Juwana ini di Jalan Pandanaran, deket kok dari Lawang Sewu. Di jalan ini, berjejeran toko oleh-oleh khas Semarang, mulai dari bandeng, lumpia, sampai wingko. Meskipun banyak toko yang menjual bandeng, tapi pilihan saya tetep Bandeng Juwana karena kepincut rasa nugget bandeng beberapa tahun lalu.

Saya dan ibu saya memutuskan untuk makan siang di Bandeng Juwana, sementara ayah dan adik saya sholat Jumat. Ternyata nugget bandeng favorit saya itu sudah engga ada lagi. Yaudah akhirnya saya pesen nasi bakar bandeng dan bandeng goreng lapis telur. Rasanya? Enak! Setelah makan, saya pun ga lupa beli bandeng vacuum lapis telur dan lumpia Semarang untuk dibawa sebagai bekal di perjalanan.

Setelah itu, kami pun segera menuju ke Klenteng Sam Poo Kong yang menjadi salah satu destinasi utama kalau ke Semarang. Saat turun dari mobil, ya ampun panasnya bikin pengen nangis! Tapi walaupun panas, saya tetep excited untuk mengeksplor Klenteng Sam Poo Kong ini karena arsitektur dan suasananya membuat saya merasa seperti sedang di Cina.

Kami pun diharuskan untuk membeli tiket masuk terlebih dahulu, yaitu sebesar Rp 3.000 per orang. Murah kan? Saat itu, Klenteng Sam Poo Kong tidak terlalu ramai sehingga kami bisa bebas foto-foto tanpa kena photobomb hehehe. Di Klenteng Sam Poo Kong ini, terdapat beberapa bangunan kuil yang semuanya di dominasi dengan warna merah. Saya sendiri ga masuk ke bangunan kuil-kuil tersebut karena saya pikir itu tertutup untuk ibadah saja. Tapi ternyata setelah itu saya baca kalau kuilnya boleh dimasuki dengan membayar biaya tambahan sebesar Rp 20.000. Saya pun kemudian hanya foto-foto di depan bangunan kuil-kuil yang cantik tersebut, juga dengan gapura khas Cina, dan patung Laksamana Cheng Ho.

Karena ga tahan panas, kami pun segera memutuskan untuk ke lokasi berikutnya, yaitu Gereja Blenduk. Tapi karena harus membelikan teman Ayah saya oleh-oleh, makanya kami mampir ke mall dulu, lupa nama mallnya apa. Eh balik dari mall udah kesorean dan langsung capcus ke Jepara.

Second Stop: Jepara

Perjalanan dari Semarang ke Jepara memakan waktu sekitar 2-2,5 jam. Di perjalanan menuju Jepara, kami sempat mampir ke Alun-Alun Demak dan Masjid Agung Demak yang merupakan masjid tertua di Pulau Jawa dan didirikan oleh Wali Songo.

Kami sampai di Jepara tepat saat maghrib dan langsung menunggu teman Ayah saya di alun-alun Kota Jepara. Menurut saya, alun-alun Kota Jepara ini keren banget. Bersih, ga terlalu rame, banyak mobil-mobil lampu kayak di Alun-Alun Kidul Jogjakarta, banyak mainan anak-anak, dan ada wifi yang cepet pula.

Setelah makan malam dengan mie godhog Solo, kami pun segera mencari hotel untuk bermalam sebelum keesokan harinya berangkat pagi-pagi ke Karimun Jawa. Pilihan pertama kami adalah hostel yang berada di Pantai Kartini, namanya Hostel Kotabaru. Lokasinya tepat di depan Pantai Kartini, jadi strategis banget kalau emang mau main-main di Pantai Kartini. Selain Hostel Kotabaru, banyak juga penginapan-penginapan lainnya yang berjejer di depan Pantai Kartini. Sayang saat itu Hostel Kotabaru ini penuh. Jadi kami harus mencari hotel lain dan saya lupa nama hotel yang kami tinggali apa.

Pagi harinya jam 8 kami pun menuju ke Pelabuhan Kartini untuk segera menyeberang ke Karimun Jawa. Tulisan saya mengenai Karimun Jawa bisa fellow traveler baca disini.

Setelah menghabiskan 3 hari 2 malam di Karimun Jawa, kami pun segera kembali ke Jepara. Saat di Jepara kami pun sempat mampir untuk melihat mebel-mebel karena memang Jepara ini terkenal dengan kreasi mebelnya. Bener deh, desain mebel di Jepara ini bagus-bagus banget, ga cuma bergaya tradisional Jawa aja. Ada yang shabby chic, ada yang vintage, bahkan ala ala industrial dan victorian. Toko yang saya datangi saja sudah punya cabang di Kemang. Dan yang penting, harganya beda jauh sama di Jakarta.

Third Stop: Solo

Kami pun kemudian melanjutkan perjalanan menuju Solo. Kalo ga salah lewat Purwodadi. Jalanan menuju ke Solo dari Jepara itu menurut saya gelap banget dan sepi. Kalau ga salah perjalanan memakan waktu sekitar 5 jam lebih karena banyak perbaikan jalan, sehingga jalur harus gantian menunggu waktu buka tutup jalanan. Padahal kalo lancar, kata Google Maps sih cuma 3 jam aja.

Kami sampai di Solo kira-kira jam 7 malam lewat dan langsung mencari hotel. Saya pun kemudian memanfaatkan aplikasi Hotel Quickly yang sudah lama ada di hp saya tapi ga pernah di pake. Jadi Hotel Quickly ini adalah aplikasi booking hotel, tapi khusus untuk last minute deal. Harganya? Murah-murah banget! Hotel seharga 800 ribu bisa kamu dapat dengan membayar 350 ribu. Lumayan kan hemat?

Saya pun kemudian memasan Aziza Hotel Solo by Horison dengan harga 202 ribu saja, padahal harga normalnya bisa sampe 450 ribu. Lumayan kan? Tadinya saya mau pesen 2 kamar karena kami kan berempat. Eh ternyata di Hotel Quickly ini gabisa pesan 2 kamar sekaligus karena sistem last minute deal itu. Alhasil saya masuk ke kamar berempat. Untungnya sih ga kena extra charge. Jadi lumayan banget kan 202 ribu bisa masuk berempat? Hotelnya juga bagus karena dikelola oleh Horison. Kamarnya luas, fasilitasnya lengkap, lokasinya super strategis, dan hotelnya ini nuansa Islami jadi di setiap kamar ada mukenah, sajadah, dan Al-Quran.

Setelah check in, kami pun dijemput oleh Tante dan Om saya yang tinggal di Solo untuk diajak makan malam ke Cafe Tiga Tjeret. Lokasi Cafe Tiga Tjeret ini tepat di depan Pura Mangkunagaran. Saya pun jadi ingat kalau cafe ini merupakan salah satu cafe yang lagi happening di Solo karena banyak yang check in Path disini hahaha. Saya sih suka banget suasana cafe ini karena temaram gitu. Dekorasinya juga bagus, kayak campuran tradisional, industrial, dan pop art gitu. Untung malam itu ga terlalu ramai jadi ga perlu nunggu untuk duduk.

10455092_10153509559404898_8427725580091736590_n 11181221_10153509564734898_6177712071093711925_nMakanan disini beragam, tapi semuanya sih bercita rasa Indonesia. Padahal saya kira tuh makanan barat karena judulnya cafe hahaha. Setiap pengunjung harus mengambil makanan mereka sendiri, jadi sistemnya prasmanan gitu. Saya pun mengambil nasi bandeng sambal matah dan gorengan-gorengan, seperti paru, sosis goreng, dan chicken katsu yang ditusuk. Rasanya menurut saya sih enak dan harganya murah.

Keesokan paginya, kami berjalan kaki menuju Pasar Klewer dari hotel karena memang lokasinya ga begitu jauh. Di Pasar Klewer kami pun beli batik untuk oleh-oleh. Saya sendiri beli piyama batik dan celana batik yang gombrong untuk dipake di rumah.

Setelah itu, kami pun dijemput oleh Tante dan Om saya untuk diajak jalan-jalan ke Keraton Surakarta Hadiningrat alias Keraton Solo. Kebetulan, tante saya adalah salah satu cucu dari Pakoeboewono XII jadi kami pun gratis masuk sana dan dapat bonus tour guide dan bisa masuk ke area-area Keraton yang tertutup untuk umum. Saya sendiri cukup miris dengan area museum Keraton Solo karena sangat tidak terawat. Debu dan jaring laba-laba dimana-mana. Lantai dan lemari-lemari kacanya pun sudah sangat berdebu. Bahkan atapnya aja kayak ada yang bocor.

Tapi begitu masuk ke lingkungan Keraton, suasananya jadi beda. Area Keraton ini lebih bersih dan terawat. Saat memasuki area Keraton, kami pun disambut oleh pohon-pohon tinggi yang berjejer rapi. Serasa lagi ada di hutan kota, adem pokoknya. Kami pun kemudian diajak masuk ke dalam area tertutup Keraton dan boleh foto-foto disana. Lumayan~

Setelah dari Keraton, kami pun langsung meninggalkan Kota Solo untuk menuju Jogjakarta. Perjalanan dari Solo ke Jogjakarta memang tidak lama. Mungkin hanya sekitar 1,5 – 2 jam saja. Di perjalanan, kami pun langsung mencari hotel lagi di Jogja melalui Hotel Quickly. Tiba-tiba adik saya kepencet booking di Hotel Jambuluwuk Malioboro dan langsung terbayar karena data kartu kredit yang masih ter-save dari pembelian sebelumnya. Yaudah mau gimana lagi, kan sudah terbeli dan ga bisa di cancel, kami pun akhirnya langung menuju Hotel Jambuluwuk itu.

Ternyata, Hotel Jambuluwuk ini bagus. Padahal saya kira hotelnya biasanya aja karena namanya yang ga meyakinkan. Pas sampai disana, hotelnya bahkan dipenuhi oleh orang-orang bule. Hampir semuanya bahkan orang bule.. Hmm lumayan lah ya cuci mata. Kamarnya sendiri gede banget. Fasilitas hotelnya lengkap banget, mulai dari kolam renang, spa, karaoke room, lounge, bahkan sampai mini library.

Setelah istirahat dan mandi, kami pun memutuskan untuk makan malam di House of Raminten yang terletak di wilayah Kota Baru. Ini adalah kunjungan kedua saya ke restoran yang nyeleneh ini dan Raminten tetap saja ramai, meskipun saat itu bukanlah weekend. Kami harus menunggu sekitar 30 menit sampai akhirnya dipanggil untuk menempati meja lesehan di lantai dua. Saya sendiri memesan ayam koteka, yaitu daging ayam yang dimasak dengan telor dan bumbu rempah-rempah kemudian dimasak di sebilah bambu. Rasanya? Enak sih.. Sekarang aja saya jadi pengen kan :p

  11899985_10153510000614898_5729658324659939896_nEsok paginya, Ayah dan Bunda memutuskan untuk berenang. Saya sendiri lagi males berenang, gatau kenapa. Padahal kolam renangnya menggoda banget buat diberenangin. Jadi yaudah saya leyeh-leyeh aja sambil foto-foto. Pas balik berenang, tiba-tiba ditelpon ke kamar katanya dapet free massage untuk 2 orang. Ih lumayan banget ya? Yaudah saya langsung turun ke tempat spa dan disambut sama mba-mba masseur yang ramah tapi pendiem. Si Bunda dapat giliran pertama buat dipijit. Kira-kira 20 menit, abis itu gantian deh saya. Pijitannya sih ga terlalu enak karena ternyata si Mba masih anak magang, tapi lumayan lah buat ngilangin pegel-pegel dikit.

Setelah dipijit, mandi, dan siap-siap, kami pun langsung mengepak barang untuk check out dan jalan-jalan ke Pasar Beringharjo. Siang itu, Pasar Beringharjo lumayan rame. Lorong-lorong pertokoannya dipenuhi sama orang-orang yang belanja batik dan kain. Saya sendiri sempet beli kain batik emboss dengan harga Rp 40.000 saja untuk 2 meter. Murah kan?

Lalu kami pun bergeser sedikit ke Benteng Vredeburg. Ini pun kali kedua saya ke Benteng Vredeburg, tapi saya suka sama benteng dan museum Vredeburg karena penataannya yang rapi, terawat, dan bersih. Kali ini, saya cukup lama mengeksplor Benteng Vredeburg sampe ke gedung-gedung museum yang di belakang dan naik ke atas bentengnya.

Karena sudah semakin siang dan perut udah laper, kami pun memutuskan untuk makan siang di Bale Raos, yaitu restoran yang dikelola oleh Keraton Jogjakarta dimana fellow traveler bisa mencicipi masakan khas Keraton dan raja-raja. Meskipun konsepnya makanan raja, tapi percaya deh Bale Raos ini ga terlalu mahal. Sama aja deh harganya kalo kamu makan di mall. Saya sendiri pesen kayak semacam burger kontemporer dengan bun yang terbuat dari semacam kue sus dan diisi dengan telur rebus dan dilumuri thousand island. Rasanya enak bangeet. Selain itu, saya juga pesen paru dengan parutan kelapa goreng. Saya lupa nama kedua makanan itu.

Malam harinya, kami jalan-jalan di Malioboro beli oleh-oleh kerupuk. Ya cuma sekedar muter-muter aja, karena ga afdol katanya kalau ke Jogjakarta ga mampir di Malioboro.

Setelah itu, kami pun kembali ke hotel. Bukan Hotel Jambuluwuk lagi, karena pas mau pesen lagi di Hotel Quickly udah ga ada. Jadi pindah deh ke Hotel Pandanaran di daerah Prawirotaman yang juga di beli via Hotel Quickly. Ya ampun hotelnya payah banget deh. Jadi kayak belum selesai dibangun gitu, jadi berisik banget sama bunyi-bunyi konstruksi. Udah gitu, air toiletnya bau lagi. Terus kamarnya super kecil. Untuk berdua aja kayaknya tuh kamar kekecilan dan ga ada space untuk gerak. Satu-satunya nilai plus dari hotel ini cuma kolam renangnya yang berada di lantai paling atas. Jadi kolam renangnya semacam infinite rooftoop pool gitu deh.

Keesokan harinya kami pagi-pagi langsung check out dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Kali ini kami lewat jalur selatan, saya lupa jalurnya lewat mana pokoknya muncul-munculnya lagi di Tol Palikanci.

Well, road trip kali ini lumayan seru dan capek. Tapi lumayan bisa mengunjungi beberapa kota sekaligus, jadi sekali merengkuh bisa check in Path di banyak kota :p

Advertisements

9 thoughts on “Central Java Road Trip: Sekali Merengkuh, Dua Tiga Kota Disinggahi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s