Menelusuri Sejarah di Passer Baroe Sambil Jalan Kaki

Saya emang cukup sering banget sih ke Passer Baroe. Ya pasti tujuan kesana adalah belanja, mulai dari belanja tekstil, belanja sepatu, sampai kebutuhan salon semuanya lengkap ada di Passer Baroe. Tapi siapa yang sangka sih kalau pusat pertokoan yang berlokasi di daerah Jakarta Pusat ini tidak hanya melulu soal belanja, tapi juga menyimpan sejarah masa lalu yang keren?

Siang ini, tepatnya tanggal 26 September, saya berkesempatan untuk melakukan walking tour bersama dengan teman-teman @TravelNBlogID dan dipandu oleh @JKTGoodGuide ke wilayah Passer Baroe. Perjalanan kami dimulai dari Stasiun Kereta Juanda. Saat sampai di Stasiun Juanda, saya sendiri merasa cukup takjub dengan situasi Stasiun Juanda yang rapi, bersih, dan banyak restoran, mirip-mirip dengan stasiun MRT yang ada di Singapore deh hahaha.

Setelah semua rombongan berkumpul, kami semua ramai-ramai berjalan ke arah Sekolah Santa Ursula yang terletak di depan Passer Baroe. Mas Chanda, guide kami siang itu dari @JKTGoodGuide menceritakan sejarah dibalik berdirinya Sekolah Santa Ursula. Kalau tidak salah ingat dan salah dengar, Sekolah Santa Ursula ini merupakan salah satu sekolah Katolik tertua di Indonesia dan didirikan oleh suster-suster di zaman Belanda untuk mendidik anak-anak bangsa Belanda dulu, khususnya anak putri.

Walaupun saya sering banget lewat di depan Sekolah Santa Ursula ini, tapi saya belum pernah memperhatikan gedung sekolahnya secara seksama, padahal ternyata keren juga loh arsitektural bangunannya. Karena memang didirikan oleh bangsa Belanda, pasti gedungnya pun bergaya kolonial dengan dominasi warna putih.

Setelah itu kami bergeser sedikit ke samping sekolah Santa Ursula, yaitu Gedung Filateli Jakarta yang katanya bekas Kantor Pos Pasar Baru Jakarta. Menurut cerita Mas Chanda, gedung ini dulunya adalah bangunan gedung telekomunikasi yang dipakai untuk di zaman pemerintah kolonial Hindia Belanda yang dipakai untuk mengirim telegraf. Sekilas, Gedung Filateli Jakarta ini mirip dengan arsitektural Stasiun Jakarta Kota, yaitu sama-sama bergaya art-deco.

Tujuan berikut walking tour kami siang ini adalah Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Sejarah GKJ ini dulu dibangun pada zaman Gubernur Raffles, tapi idenya dari Gubernur Daendels. Fungsi gedung ini beralih dari masa ke masa, mulai dari markas militer tentara Jepang, gedung Universitas Indonesia, dan kembali ke fungsi utamanya sebagai gedung pertunjukan. Salah satu fun fact dari Mas Chanda yang saya ingat adalah dulu ada bagian balkon di GKJ yang khusus diperuntukan untuk wanita. Bisa sih laki-laki ikutan nonton dari situ, tapi mereka harus mendampingi wanita dan juga nonton sambil berdiri. Setelah penjelasan selesai, kami pun foto grup di depan GKJ, yay!

Puas narsis dan foto-foto di GKJ, kami menyeberangi jembatan penyeberangan untuk kemudian berjalan ke arah Passer Baroe. Di jembatan penyeberangan, Mas Chanda pun sempat memberikan sedikit penjelasan mengenai Lapangan Banteng yang terlihat dari ujung jembatan penyeberangan. Dulu, Lapangan Banteng ini terdapat Istana Daendels, sang Gubernur Belanda dan wilayahnya disebut dengan Waterlooplein. Terus katanya dulu di Lapangan Banteng ada tugu dengan patung singa terpancang diatasnya, tapi karena katanya bentuknya aneh, patung itu kadang-kadang disebut dengan patung pudel.

Turun dari jembatan penyeberangan, kami langsung berjalan ke arah Gedung Antara. Kami pun diberikan kesempatan untuk mengeksplorasi Galeri Antara yang merupakan sumber informasi kemerdekaan Republik Indonesia. Saat itu di Galeri Antara lagi ada exhibition dengan tema “70th HistoRI Masa Depan” yang menampilkan foto-foto proses proklamasi Indonesia. Itu kali saya pertama ke Galeri Antara dan saya langsung terkagum-kagum dengan pameran yang dilaksanakan disana. Selain foto, ada juga mesin tik zaman dulu, memorabilia zaman Belanda seperti surat-surat, sampai lembaran komik zaman dulu.

Setelah lihat-lihat karya-karya keren di Galeri Antara, kami langsung melanjutkan perjalanan ke arah Passer Baroe. Memang Passer Baroe ini terkenal dengan jualan tekstilnya, tapi ternyata banyak banget gedung-gedung bersejarah, seperti rumah mayor Tionghoa yang sekarang jadi Toko Kompak, toko es krim Tropik yang menerapkan sistem pembayaran pas pertama di Passer Baroe, sampai ke kuil Tionghoa di Passer Baroe.

Saya sendiri baru tahu kalau ada vihara di sekitaran Passer Baroe. Tapi aksesnya agak susah, karena masuk ke dalam gang kecil gitu, saya sendiri lupa patokannya ap. Di dalam kuil yang saya lupa namanya apa, ada banyak patung-patung dewa-dewi, lilin, dupa, sampai sesajen. Ga jauh dari kuil pertama, ada kuil kedua yang suasananya hampir sama dengan kuil pertama.

Keluar dari kuil tersebut, kami kembali menyusuri gang untuk mengarah ke Gereja Ayam yang terletak di belakang Passer Baroe. Kenapa dinamakan Gereja Ayam? Karena di atas menara gereja tersebut, bertengger seekor ‘ayam’ yang menunjukkan arah angin. Gereja ini sejak awal memang diperuntukkan untuk orang pribumi, sehingga khotbah dan misa disampaikan dengan Bahasa Melayu.

Perjalanan kami hari itu berakhir di Gereja Ayam dengan diadakan kuis. Setelah berebut menjawab pertanyaan, akhirnya saya berhasil mendapatkan voucher Blue Bird sebesar 30 ribu rupiah. Yes lumayan pulang tanpa tangan hampa! Selain voucher, saya mendapatkan teman-teman baru dan pengetahuan sejarah baru tentang wilayah Passer Baroe yang sebelumnya ga pernah saya tau kalo punya banyak sejarah penting. Ini baru hari pertama workshop @TravelNBlogID saja udah seru banget, gimana hari kedua?

Advertisements

10 thoughts on “Menelusuri Sejarah di Passer Baroe Sambil Jalan Kaki

    • Saya jg baru kali ini mas jalan2 di Jakarta sambil jalan kaki dan ternyata seru abis! Siapa yg sangka kan ya di Passer Baroe ada tempat2 keren gt? Hehe

    • Iya seru banget ya Mas! Wah terimakasih loh Mas Akbar tulisan saya dibilang bagus, padahal super amatiran gini. Blog & tulisan Mas Akbar juga keren 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s