Japan Holiday 101: Visa and Other Things to Prepare

Visa Jepang

So, back to another getting ready for holiday kind of post. Kali ini saya akan menulis tentang seluk-beluk membuat visa Jepang dan hal-hal lain yang harus dipersiapkan kalau berkunjung ke negara yang katanya mahal ini, because I plan to visit Japan (yes finally!) on this fall, so I need to prepare anything, including visa, as soon as possible since the departure date is getting closer.

Before that, I want to tell a unimportant story about my plan to visit Japan this fall. It was months ago, I forget when. Jadi waktu itu lagi ada promo tiket Air Asia dan saya coba aja cek ke beberapa destinasi internasional. Eh taunya, harga ke Jepang kena promo, jadi 3,2 juta saja pulang pergi (fly thru Kuala Lumpur). Lah lumayan banget kan? I remember my friend said that she was bought a Tiger Air promo ticket to Japan for 6 millions something, so my Air Asia promo find was jackpot!

Karena kepengen banget ke Jepang, saya pun berusaha mencari teman jalan. Orang tua udah pernah ke sana, walaupun udah berpuluh tahun lalu, tapi mereka gamau. Nyari temen lah saya, gembar gembor di beberapa grup Line ngajakin pada ikut ke Jepang. Tapi ternyata semua berakhir nihil. Yaudah deh saya japri aja temen kuliah saya yang suka Jepang gitu, namanya Naadiyah, eh ternyata doi mau. Saya pun japri lagi beberapa temen karena ga asik ah kalo cuma pergi berdua. Kali ini yang kena bujuk rayu saya si Alin, dalam hitungan menit dia pun bilang beli aja tiketnya, sekalian buat adeknya juga si Desi. Malemnya, si Naadiyah ngabarin kalo temennya juga mau ikut, namanya Elsa. Jadi total berlima lah kami akan berangkat nanti! Yes, lumayan hemat biaya karena kalo pergi rame-rame pasti bisa patungan ini itu kan :p

Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya mendekati 2 bulan sebelum keberangkatan, kami pun mulai menyusun rencana. Itinerary sudah dibuat, penginapan pun sudah melihat-lihat kira-kira mana yang cocok, murah, dan ciamik. Eh iya, semua penginapan kali ini kami menggunakan jasa Airbnb, karena termasuk lebih murah dibandingkan hotel, even hostel.

Applying for Visa

Setelah itu, kami pun membuat visa. Naadiyah dan Elsa udah buat visa duluan, karena mereka punya e-paspor, jadi tinggal pake visa waiver saja. Sedangkan saya, Alin, dan Desi harus mengurus visa kunjungan normal. Langkah pertama dalam membuat visa Jepang ya pasti mengecek ke website resmi Kedutaan Jepang. Setelah menelaah, saya pun menyimpulkan kalau tipe visa yang akan kami apply adalah visa kunjungan sementara untuk kunjungan wisata dengan biaya sendiri.

Nah, berikut adalah dokumen dan persyaratan yang harus dilengkapi saat fellow travelers ingin apply tipe visa tersebut.

  1. Paspor
  2. Formulir permohonan visa (download disini) dan pasfoto terbaru (ukuran 4,5 x 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram) — Note: untuk foto ini, saya foto di Star Studio Mall Kelapa Gading. Bisa juga di photo studio lainnya semacam Fujifilm atau yang banyak berjejer di Jalan Sabang. Mereka biasanya tau kok, tinggal bilang aja mau foto untuk visa Jepang.Contoh Form Visa Jepang
  3. Fotokopi KTP (surat keterangan domisili) — Note: kalau saya fotokopi KTP di atas selembar kertas A4 dan ga perlu digunting
  4. Fotokopi kartu mahasiswa atau surat keterangan belajar (hanya bila masih mahasiswa) — Note: surat keterangan mahasiswa saya diketik dalam bahasa Indonesia, tapi katanya boleh juga kalau dalam bahasa Inggris
  5. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang)
  6. Jadwal perjalanan (download disini) (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)
  7. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dsb. (bila pemohon lebih dari satu)
  8. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan (bila pihak Pemohon yang bertanggung jawab atas biaya): fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir // (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu): maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya — Note: karena saya belum mampu membiayai liburan ini sendiri, pasti saya menggunakan bukti keuangan orang tua saya yang berbentuk rekening koran dan fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir (karena apply visa di awal September, 3 bulan terakhir Juni-Agustus). Untuk rekening koran, bilang aja ke bank cabang terdekat, biasanya jadi sekitar 2-3 hari dan ada biayanya sekitar 5 ribu rupiah kalo gasalah.

Terus saya pun tambah-tambahin lampiran sendiri, yaitu bukti pemesanan hotel. Biar kemungkinan granted besar aja, sapa tau yang pihak kedutaan semakin yakin karena semua sudah dipersiapkan dengan matang. Padahal mah, bukti pemesanan hotel itu juga dummy booking. Jadi fellow travelers tinggal akses booking.com dan pesan hotel yang menawarkan free cancellation policy. Setelah visa granted, yaudah cancel aja bookingnya hehehe. Untuk meminimalisir kelupaan cancel, pilih juga hotel yang tidak mensyaratkan penggunaan kartu kredit saat memesan hotel. Btw, semua berkas disusun secara rapi sesuai urutan 1-9 ya!

Oh iya, jangan lupa ya kalau permohonan visa hanya akan diproses di konsulat yang sesuai dengan wilayah yurisdiksi masing-masing (klik untuk melihat wilayah yurisdiksi). Jadi kalau misalnya fellow travelers tinggal di Jogjakarta, apply visa di kedutaan Jakarta, kalau fellow travelers tinggal di Kalimatan Selatan, apply di konsulat Surabaya, dan gitu deh, sila di cek linknya hehehe.

Akhirnya, di suatu Jumat siang, saya, Alin, dan Desi pun berangkat menuju kedutaan Jepang yang terletak di Jl. M.H. Thamrin No. 24, Jakarta 10350. Tepatnya, di sebelah The Plaza dan Plaza Indonesia. Jam pelayanan pembuatan visa itu 08.30 – 12.00, sedangkan pengambilan paspor 13.30 – 15.00. Kami sendiri sampe lokasi sekitar jam 10 pagi dan sudah terlihat antrian di depan gedung kedutaan. Ga lama mengantri di luar, kami pun dipersilahkan masuk oleh seorang security dan menukarkan ID card. Jadi jangan lupa untuk membawa ID card asli, misalnya KTP atau SIM. Setelah menukarkan ID card, kami masuk lagi ke sebuah ruangan untuk melewati X-Ray scanner dan kemudian masuk ke dalam ruang aplikasi visa.

Waktu saya ke sana, kondisinya lumayan ramai. Kami pun menekan dulu nomer kupon antrian. Ada dua mesin kupon, yang pertama (sebelah kiri) untuk WNI dan yang kedua (sebelah kanan) untuk warga Jepang. Untuk satu rombongan atau keluarga, boleh ambil satu nomor antrian saja. Walaupun ramai, kami masih dapet tempat duduk kok. Ga lama setelah duduk, kami disamperin bapak-bapak yang menanyakan apakah sudah diberi tanda terima. Kalau belum, diisi dulu dan dan nanti diserahkan saat dipanggil ke loket.

Kami dapat nomor 088, sedangkan saat itu antrian baru ke 060 something. Untuk killing time, kami ngobrol-ngobrol aja dan nonton siaran TV Jepang. Oh iya, di dalam ruangan ga boleh foto atau terima telepon katanya, nanti bakal ditegur. Sambil perhatiin orang-orang di loket, ternyata banyak juga yang disuruh kembali mengatur berkas-berkas mereka, ga tau sih apanya yang salah.

Ga sampai 1 jam, nomor urutan kami pun terpampang di layar dan kami langsung maju ke loket bertiga. Kami pun menyerahkan tanda terima dan dokumen persyaratan. Nanti petugasnya akan melihat dulu kelengkapan dokumen tersebut dan menstempel tanda terima dan dokumen-dokumen tersebut. Setelah itu, kami diberitahu untuk datang kembali di hari Rabu untuk mengambil paspor. Well, now let’s wait…

*

3 hari kemudian, tepatnya hari Rabu, saya dan Alin kembali ke kedutaan Jepang untuk mengambil paspor saya. Untuk pengambilan visa sendiri, boleh diwakilkan, yang penting bawa slip kuning tanda terima. Saya sendiri sangat berharap kalau saya ga perlu bayar visa, karena katanya kalau ada surat keterangan mahasiswa, ga perlu bayar visa. Tapi saya tetap bawa uang cash untuk jaga-jaga. Proses masuk ke kedutaan tentu sama seperti saat saya apply kemarin. Tukar identitas, body check, masuk ke ruangan antri, ambil nomor antrian, dan tunggu.

Siang itu kami dapat nomor antrian 280, sedangkan saat itu masih 220. Satu jam kemudian, nomor kami dipanggil. Tapi ternyata kami disuruh bayar, untuk 3 paspor 990 ribu. Saya yang sudah berharap gratis, karena sudah menyertakan surat keterangan mahasiswa pun bertanya ke petugasnya.

“Mba katanya kalau menyertakan surat keterangan mahasiswa bisa gratis?”

“Iya gratis, kalau ada tulisan S1 atau undergraduate.”

Saya pun mengingat-ingat kalau memang di surat keterangan mahasiswa saya tidak ada tulisan mahasiswa S1 atau undergraduate, hanya ada tulisan mahasiswa aktif. Yah sayang banget, padahal kan lumayan hemat 330 ribu. Yaudah tapi mau bagaimana lagi, setelah bayar dengan uang pas, akhirnya paspor kami dikembalikan. Dan alhamdulillah visa kami bertiga granted! Now let’s focus on accomodation and itinerary (you can download my itinerary here)

Visa Jepang

Oh iya, sambil nyusun itinerary, saya juga rajin browsing untuk cari tahu. Semuanya dikulik, dari blog, pinterest, tumblr, google maps, dan lain-lain. Ada beberapa web dan aplikasi yang berguna banget kalau kalian mau traveling ke Jepang, kayak:

  • hyperdia.com – berguna banget buat liat jadwal kereta dan transportasi lainnya di Jepang. Semua jenis transportasi lengkap tersedia sampe waktu dan harganya yang super detail
  • japan-guide.com – untuk melihat tempat-tempat wisata di Jepang, lengkap sama how to get there, admission fee, dan lain-lain
  • Japan Travel App on iPhone – selain untuk ngecek daerah-daerah wisata di Jepang, saya pake ini juga untuk mencari rute kereta, karena kan suka ribet tuh transit di stasiun mana dan keluar di pintu mana. So, this app was really useful!Japan Travel App

Accomodation in Japan

Untuk akomodasi, kita berlima udah sepakat untuk memanfaatkan jasa Airbnb. Selain murah, enak juga karena biasanya lengkap dengan dapur dan terutama, we have the entire apartment/house! Karena saking banyaknya apartemen, kita harus mengerucutkan dengan memperhitungkan budget, lokasi, dan juga fasilitas yang ditawarkan oleh apartemen tersebut. Untuk budget, kita udah set kalau ga boleh lebih dari 300.000 per orang per malam.

Airbnb pertama yang kita booking adalah rumah di Kyoto. Rumahnya itu kalau ga salah deket sama sungai dan cuma 20 menit sepedahan ke Fushimi Inari Shrine, kuil yang terkenal di Kyoto itu. Harganya untuk satu malam adalah 1.306.050 untuk berlima per malam. Murah kan?

Kyoto Airbnb

Setelah Kyoto terbeli, waktunya cari Airbnb di Osaka. Akhirnya kita dapet apartemen yang katanya cuma 5 menit dari Shin-Osaka Station. Harganya 1.235.408 untuk berlima, permalam.

Osaka Airbnb

Untuk Tokyo, ada jeda lama untuk belinya karena kita memutuskan untuk merampungkan visa dulu sebelum cari apartemen di Tokyo. Apalagi kan di Tokyo 3 hari, jadi milihnya harus bener-bener seksama haha. Akhirnya kita pun dapat apartemen di deket Shinjuku Station. Apartemennya gede banget, bahkan sampe muat 8 orang. Untuk 5 orang, kita bayar 4.815.794 untuk berlima per 3 hari.

Airbnb Tokyo

Karena pembayaran Airbnb ini pakai kartu kredit, makanya kita ganti-gantian pake kartu kreditnya. Misalnya kayak Airbnb di Kyoto yang bayar Elsa, di Osaka Naadiyah, dan di Tokyo saya, nanti tinggal saling ganti uangnya aja. Gampang gampang ribet deh hehehe.

Other Things We Prepare Before Japan

Setelah hotel rampung dibeli semua, akhirnya kita merampungkan itinerary, lengkap dengan jalur transportasinya sesuai dengan waktu keberangkatan yang bisa dilihat di hyperdia.com.

Terus kita juga beli Willer Bus untuk transportasi dari Kyoto ke Tokyo, karena kita ga mampu pake shinkansen hahaha. Untuk berlima, kita dapet yang kelas relax dengan harga 29.600 JPY berlima. Untuk mesen Willer ini agak ribet sih, walaupun pake bahasa Inggris, tapi gatau gue ngerasa ribet aja hahaha. Kalau mau lihat gimana cara pesan Willer, silahkan ke link berikut ini karena saya juga nyontek situ.

Karena kita juga memutuskan untuk ke 2 theme park terhits di Jepang, yaitu Universal Studio Japan dan Disneysea, kita pun memutuskan untuk membeli tiket di sini. Daripada ngantri beli tiket, mendingan pas dateng langsung masuk dan langsung ngantri wahana ya kan? Setelah bertanya ke beberapa tour & travel, akhirnya kita memilih beli di HIS Travel. Harganya pun sama dengan harga yang tertera di website resminya, cuma ditambah 1% aja dan 3% kalo fellow traveler membayar dengan kartu kredit. Dapet tiketnya pun tiket fisik yang berbentuk kartu dengan gambar karakter.

Tiket Disneysea

Di HIS Travel, kita juga sekalian sewa Pocket WiFi. Walaupun dari masing-masing apartemen udah dapet, tapi biar lebih aman dan terkoneksi, kita pun tetap sewa WiFi. Saya sewa di HIS Midplaza, kebetulan stok Pocket WiFi lagi ada, biasanya katanya sih abis. Yaudah saya pilih aja Pocket WiFi yang unlimited, lumayan lah gausah pusing abis kuota walaupun nanti bakalan lemot. Untuk WiFi unlimited harga sewa untuk 7 hari adalah 606.000, karena saya dapet special price setelah beli tiket theme park. Ditambah deposit 1.000.000 yang akan dikembalikan nanti.

Yap, saya rasa udah sih itu aja persiapannya. Lainnya seperti makanan, pakaian, dan uang kan persiapan personal yah. Now let’s go to Nippon! 😀

Advertisements

11 thoughts on “Japan Holiday 101: Visa and Other Things to Prepare

  1. hai aku mau nanya, saat kamu apply visa, kamu nulis menginapnya di hotel (dari booking.com) atau airbnb?
    untuk willer bus apa kamu menyertakan bukti tiketnya di dokumen pengajuan visa?

    • halo!

      engga, untuk pengajuan visa aku ngelampirin bukti booking hotel di booking.com yg free cancellation, jd setelah visa jadi hotel di booking.com aku cancel dan pesan airbnb.

      kalau untuk willer bus, aku ga lampirkan saat pembuatan visa

  2. Hey thanks for the information. mahu tanya, Masalah akomodasi menggunakan AirBnb, aku juga baca supaya aman bisa menggunakan dummy booking di bookingdotcom. Tapi apakah nanti saat clearence di imigrasi jepang akan ditanyakan kembali dimana menginapnya? soalnya baca dari sumber lain, disarankannya cancel booking.com setelah masuk jepang (masuk imigrasi), makasih sebelumnya 🙂

    • Hai Lala!

      Saya waktu masuk Jepang lewat Osaka kemarin menuliskan alamat Airbnb di arrival card. Pas di imigrasi, petugasnya juga nanya hotel or Airbnb? Saya jawab aja Airbnb dan dia sudah paham kok.

  3. Hay Navia
    interesting nih, krn aku juga pakai airbnb,
    jadi stepnya dummy booking, begitu keluar visa langsung cancel, waktu di sampe di jepang yg kita bawa bukti booking airbnb saja gpp?

    • Hai Pandu,

      Iya saya waktu di imigrasi Osaka ditanya nginep di airbnb ya? Saya jawab aja iya, terus dia ga tanya2 lagi. Kalau untuk bukti booking, saya ga bawa yang airbnb, paling cuma bukti di hp aja sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s