A Day In Kyoto

Tori Gates

Kota tujuan saya berikutnya di Jepang adalah Kyoto. Setelah menghabiskan 2 hari 1 malam di Osaka, saya pun berangkat ke Kyoto, tepatnya pada malam hari setelah puas bermain seharian di Universal Studio Jepang. Dari Osaka, Kyoto ini memang tidak jauh dan hanya memakan waktu perjalanan sekitar 45 menit menggunakan kereta.

Setibanya di Kyoto, saya dan teman-teman saya dijemput dengan mobil di stasiun oleh host Airbnb kami yang bernama Toshiya. Baik banget ya dia mau jemput segala? Mungkin dia kasian sama cewe-cewe kere malem-malem di jalan hahaha. Karena mobilnya kecil dan ga muat, akhirnya kami harus gantian dijemput dan saya pun dapat giliran dijemput belakangan sama Naadiyah. Stasiunnya malam itu sepi banget, saya sendiri lupa nama stasiunnya apa pokoknya kayak di daerah perumahan gitu. Ga lama kemudian, si Toshiya kembali menjemput saya dan Naadiyah. Di mobil kami basa-basi, dia nanya kami mau kemana aja dan dia ngasih tau kalo mau kesitu naik apa.

Pas sampai di rumahnya, saya cukup surprise juga. Soalnya dari luar tuh keliatan kecil, kayak rumah kontrakan di Jakarta yang sebaris ada beberapa pintu rumah. Tapi pas masuk ke dalam rumahnya, ternyata gede juga. Cukup lah untuk menampung 6 orang. Bahkan di lantai 2 juga ada kamar. Nuansa rumahnya sendiri juga kayu gitu, karena si Toshiya ini seorang craftman. Rumahnya menurut saya enak banget, nyaman, nuansanya tradisional banget, walau ga tradisional amat. Lengkap pula, semuanya ada sampe bahan makanan kayak miso paste, nori, pasta, bahkan sampe traditional tea set pun ada. Toshiya juga punya 3 sepeda yang bisa dipake dengan gratis kalau mau muter-muter di sekitar komplek.

Kyoto Airbnb

Walaupun saya sendiri suka banget sama rumah Toshiya ini, tapi sayangnya pagi-pagi kami harus udah check out untuk keliling-keliling di Kyoto. Akhirnya petualangan kami geret-geret koper ke stasiun kembali dimulai. Karena kami malamnya mau langsung ke Tokyo dari stasiun Kyoto, makanya kami ke stasiun Kyoto dulu, sekalian nitip koper di loker. Setelah beres urusan perlokeran, kami pun lanjut ke tujuan pertama yaitu Fushimi Inari Shrine. Dari stasiun Kyoto ke Inari ini cuma 5 menit dan ga pake ganti line.

Dari stasiun Inari, fellow traveler tinggal nyebrang aja dan udah sampe gerbang Fushimi Inari Shrine. Siang itu memang Fushimi Inari rame banget, mungkin emang selalu rame kali ya secara kuil ini terkenal banget dan jadi salah satu must visit places in Kyoto. Fushimi Inari di Kyoto ini memang katanya sih pusatnya kuil-kuil Inari di seluruh Jepang. Ga hanya wisatawan aja ternyata yang mengunjungi Fushimi Inari ini, tapi juga umat-umat Shinto yang sedang beribadah.

Gerbang Fushimi Inari

Hal yang pertama saya cari di Fushimi Inari adalah Tori Gates yang terkenal itu, yaitu 1000 gapura berwarna orange dan berjejer sepanjang 233 meter. Untuk mencapai situ, saya harus menaiki tangga dulu dan menyusuri jalan setapak yang dipinggirnya dihiasi oleh patung-patung serigala yang katanya adalah messenger dari dewa-dewa Inari.

Serigala Inari

Pas sampai di depan gerbang, ternyata jalanan setapak yang dikelilingi oleh Tori Gates itu rame banget. Sesi foto-foto saya jadi ga asik karena orang hilir mudik melulu dan akhirnya ga dapet foto bagus deh kayak orang-orang di Instagram hahaha. Tapi yah lumayan lah ya akhirnya bisa juga ngeliat Tori Gates yang terkenal itu. Saya juga ga sempet menyusuri jalanan setapak Tori Gates yang katanya lumayan panjang, karena terlalu gerah dan terlalu rame sih menurut saya.

Tori Gates

Ga berlama-lama di Tori Gates, saya pun memutuskan untuk menyudahi kunjungan di Fushimi Inari Shrine ini karena harus mengejar tujuan wisata berikutnya. Di perjalanan keluar, ada banyak toko-toko souvenir yang menawarkan pernak-pernik gemas sampai makanan khas Jepang. Selain itu, ada juga kayak semacam kuil permohonan gitu yang kalau beli stiknya (atau apalah namanya) terus nanti tulisan yang muncul adalah keberuntungan gitu. Ga ngerti deh, saya sendiri ga nyoba sih karena harganya lumayan sekitar ¥ 200. Saya juga sempet cuci muka di sumur suci sih katanya, lumayan deh penyegaran setelah panas-panasan haha.

Hitakigushi

Sumur Suci

Setelah itu, saya dan teman-teman saya pun segera bergegas ke tujuan berikutnya, yaitu Arashiyama Bamboo Forest. Untuk mencapai ke Bamboo Forest ini ada 2 pilihan stasiun terdekat, yaitu Arashiyama atau Saga-Arashiyama. Saya sendiri lupa turun di stasiun mana sih haha. Setelah itu, kami pun langsung menuju ke stasiun Torokko Saga Station untuk membeli tiket Sagano Scenic Railway, jadi semacam sightseeing train yang menyusuri bamboo path dan sungai. Harganya untuk 1 orang adalah ¥ 620. Saya saranin juga belinya buru-buru ya, begitu tiba di daerah Arashiyama, karena saya tiba jam 1 baru dapet jadwal Sagano Scenic yang terakhir, yaitu jam 5 sore.

Tiket sudah ditangan, kami pun segera berjalan menuju bamboo forest. Jalannya sih ga jauh, sekitar 10 menit gitu. Kalau mau sewa sepeda juga banyak disana, bisa juga naik becak yang ditarik manusia itu, tapi saya lupa harganya berapa sih. Jalanan menuju bamboo forest itu tenang banget menurut saya, rumah-rumahnya juga bagus dan oke lah buat foto-foto. Di ujung jalan pun ada cafe dan toko-toko yang menjual souvenir.

Kami pun akhirnya tiba di bamboo forest dan ternyata pun ramai lagi. Padahal saya membayangkan suasananya tuh tenang kayak di hutan-hutan pedalaman. Yah gabisa bebas foto-foto cakep lagi deh. Ekspektasi saya tentang bamboo forest ini pun ternyata terlalu tinggi. Aslinya menurut saya biasa aja, kayak hutan-hutan bambu yang banyak di desa-desa di Indonesia hahaha.

Bamboo Forest

Karena bosan, kami pun segera kembali lagi ke stasiun dan memutuskan untuk menunggu waktu berangkat Sagano Scenic Railway saja. Stasiunnya sendiri menurut saya bagus, kalau gasalah nama stasiunnya itu Torokko Saga. Jadi kayak ada kereta jadul gitu yang dijadikan pajangan di teras stasiun dan gedung stasiunnya sendiri bagus, kayak stasiun jaman dulu.

Torokko Saga

Akhirnya, kami pun dipersilahkan memasuki platform. Ternyata sudah banyak juga yang mengantri rapi dipinggir rel. Pas keretanya dateng, ternyata keretanya lucu banget kayak kereta-kereta jaman dulu. Kami pun dipersilahkan untuk naik ke dalam gerbong dan duduk sesuai dengan nomor kursi. Saya sendiri harus berpisah dengan teman-teman saya, dengan pembagian saya, Alin, dan Desi satu kursi dan Naadiyah dan Elsa duduknya agak jauh di belakang kami.

Sagano Train

Di sepanjang perjalanan Sagano Scenic, saya cukup antusias karena pemandangannya keren banget. Like seriously, keren banget. Sungainya super bersih dan lebar, terus pohon-pohon dan hutan dipinggirnya semakin mempercantik suasana. Saya sampai berdiri-berdiri saking takjub dengan pemandangannya. Duh andaikan udah peak fall, pasti udah keren banget deh. Sayang karena kereta berjalan cukup cepat, saya pun tidak bisa mengambil foto yang bagus.

sagano scenic

Akhirnya perjalanan 30 menit berakhir di Torokko Kameoka Station. Stasiunnya bahkan lebih tradisional lagi dengan nuansa kayu dan lokasinya di tengah-tengah sawah gitu. Untuk melanjutkan perjalanan ke stasiun kereta JR, kami pun harus menyusuri jalanan di pinggir sawah yang saat itu cukup sepi dan gelap. Kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke Kyoto Station.

Di Kyoto Station, kami pun sempat makan malam, jajan, dan foto-foto sambil menunggu waktu keberangkatan Willer Bus ke Tokyo. Akhirnya, perjalanan sehari di Kyoto pun selesai and we are ready for Tokyo!

Advertisements

9 thoughts on “A Day In Kyoto

  1. Wah ngebut jg ya di japan, tp blognya membantu banget nih
    Permisi, bole minta link airbnb kyoto nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s