I Left My Heart in Tokyo

Shibuya

Tokyo, sebagai ibukota Jepang memang merupakan salah satu kota yang menjadi bucketlist banyak orang. Saya pun begitu. Saya selalu penasaran bagaimana sih rupanya Tokyo ini. Apakah memang secanggih dan sebagus yang orang-orang katakan? Akhirnya saya pun bisa berkesempatan untuk mengunjungi Tokyo sebagai salah satu kota tujuan saya selama di Jepang.

Melanjutkan kisah perjalanan saya di Nippon, saya dan teman-teman saya kemudian menumpang Willer Bus dari Kyoto ke Tokyo. Enaknya Willer Bus ini, ada pilihan overnight ride, jadi pas banget buat fellow traveler yang ingin menghemat biaya penginapan. Bus saya sendiri waktu itu berangkat jam 23.30 dari depan Ibis Style Kyoto dan berhenti di Tokyo Station parking lot jam 07.00 keesokan harinya.

Bus Willer Kyoto Tokyo

First Day in Tokyo

Setelah tiba di Tokyo Station, kami pun langsung bergegas menuju Shinjuku karena memang penginapan kami berada di daerah Shinjuku dan tujuan pertama kami adalah Shinjuku Gyoen National Garden. Setelah tiba di Shinjuku Station, kami pun menitipkan koper di loker dan langsung jalan kaki menuju Shinjuku Gyoen. Ga jauh sih kira-kira cuma 15 menit jalan gitu.

Sebelum memasuki Shinjuku Gyoen, kami pun membeli tiket dulu seharga ¥ 200 di mesin otomatis. Saya pun langsung norak, keren amat ini cuma mau masuk taman aja tapi beli tiket dan pintu masuknya kayak mau naik kereta. Pas masuk, saya tambah norak lagi. Enak banget suasananya! Meskipun terletak di tengah kota, tapi suasananya tenang banget dan jauh dari hiruk pikuk.

Tiket Shinjuku Gyoen

Kami pun leyeh-leyeh terlebih dahulu di area rumput yang luas karena emang capek banget. Rumputnya pun halus banget, kami tidur-tiduran ga perlu pake tikar lagi sih. Siang itu, banyak juga warga setempat dan turis-turis yang leyeh-leyeh sambil baca buku dan main sama anaknya. Sambil tidur-tiduran, kami semua berandai-andai, kapan ya Jakarta punya taman kayak gini.

Shinjuku Gyoen

Setelah itu, kami lanjut lagi ke area taman berikutnya yang ada danau. Wuih dari situ, pemandangannya lebih oke lagi. Areanya dikelilingi danau, bunga-bunga bermekaran, di danaunya ada jembatan lucu, dan dari jauh terlihat sebuah skyscrapper gagah. Asli kayak di New York Central Park (ya walaupun ga pernah kesana sih). Kami pun kemudian lanjut leyeh-leyeh.

Shinjuku Gyoen 3

Shinjuku Gyoen 2

Namun karena kelaparan, kami pun memutuskan untuk menyudahi kunjungan di Shinjuku Gyoen National Garden dan mencari makanan. Tak jauh dari pintu keluar, kami pun menemukan Yoshinoya dan memutuskan untuk makan disana. Menu di Yoshinoya sendiri lebih beragam dibandingkan dengan Yoshinoya di Indonesia. Di Jepang ini ada variasi hot plate, salmon, unagi, dan macem-macem deh. Harganya pun menurut saya sama dengan di Jakarta, cukup terjangkau lah dengan porsi yang banyak.

Yoshinoya

Karena teman saya si Alin dan Desi sudah ga sanggup lagi pake sepatu boots yang nyakitin kaki, makanya kita jalan-jalan dulu di sekitar Shinjuku buat nyari sepatu dan belanja perintilan. Kami pun sempat mampir ke salah satu shopping spot terkenal di Tokyo, Don Quijote atau yang dikenal dengan Donki di Shinjuku untuk belanja. Di Donki ini semua dijual, mulai dari kostum cosplay, koper, make up, makanan, pokonya semua ada deh. Kalau fellow traveler berbelanja dalam jumlah banyak pun ga bakal dikenakan pajak alias tax free. Tapi disini emang rame banget. Saking penuhnya, saya sampe pusing karena baru liat rak sebentar tiba-tiba udah harus bergeser lagi karena koridornya ga muat untuk dilewati dua orang.

Donki 4

Donki 3

Di Shinjuku kami juga sempat main UFO Catcher di arcade station. Harganya sih cuma ¥ 100 dan mainan yang didapat lucu dan gede-gede banget. Sayangnya kami gagal mulu 😦

UFO Catcher 2

UFO Catcher

Perut terisi dan puas belanja, kami pun segera berangkat lagi ke tujuan berikutnya, yaitu Odaiba. Saya juga penasaran banget dengan Odaiba ini, karena ini adalah pulau buatan dan saat ini merupakan salah satu pusat entertainment di Tokyo. Tapi saya sih penasaran karena pengen foto sama Gundam raksasa yang terkenal itu.

Setibanya di Odaiba, kami pun foto-foto dulu sama ferris wheel dan gedung Toyota Mega Web. Sebenarnya sih pengen masuk Toyota Mega Web karena katanya bagus dan bisa test drive mobil Toyota yang canggih-canggih, ya tapi karena kami kere, yaudah lah ya. Setelah itu, kami menyeberang ke Divercity Tokyo Plaza untuk ke lokasi Gundam. Tapi lagi-lagi, rencana hanyalah rencana. Kami pun terpisah lagi. Karena harus nungguin temen saya yang ilang, saya pun cuma bisa nunggu di dalam mall dan gagal foto sama Gundam. Eh taunya, temen saya yang ngilang gara-gara foto sama Gundam </3

Odaiba

Setelah itu, karena sudah terlalu lelah dan belum mandi seharian, kami pun memutuskan untuk segera ke penginapan kami, yaitu Airbnb di daerah Shinjuku. Untungnya kali ini sama sekali ga susah untuk menemukan apartemennya, karena terletak dekat dengan hotel yang cukup terkenal dan bisa ditemukan di Google Maps.

Sedikit review tentang apartemen kami, saya lumayan suka karena penataannya rapi banget. Sebenarnya sih kalo kata deskripsi Airbnb itu muat sampe 8 orang, tapi diisi kami 5 orang beserta koper-koper aja sudah cukup sesak. Semuanya lengkap tersedia, mulai dari vacuum cleaner, mesin cuci, toiletries, dan alat masak. Harganya 4.815.794 untuk 3 malam dan 5 orang.

Airbnb Tokyo

Second Day in Tokyo

Disneysea

Hari kedua kami di Tokyo adalah jadwal untuk main seharian di Tokyo Disneysea. Kenapa kami memilih Disneysea? Karena Disneysea cuma ada di Tokyo aja dan saya sudah pernah ke Disneyland. Lagian kata orang-orang Disneyland lebih untuk anak kecil dan Disneysea isinya mainan ekstrim. So, I can not wait to try! Untuk cerita saya di Tokyo Disneysea, saya akan menulisnya di post berbeda. Tunggu yes!

Third Day in Tokyo

Di hari ketiga ini, saya diajak sama Oma-nya si Alin dan Desi untuk belanja di daerah Tama Prefecture. Pagi-pagi si Oma udah jemput kami di apartemen dan langsung lah kami berangkat naik kereta. Saya sendiri kurang memperhatikan rute untuk mencapai Tama bagaimana.

Tujuan pertama belanja adalah Book Off Super Bazaar, yaitu toko yang menjual berbagai macam barang, seperti buku bekas, DVD bekas, sepatu, baju, tas, sampai alat olahraga bekas. Saya ga tau sih orisinalitas dari barang-barang disini, tapi asli harganya murah-murah. Temen saya beli jam tangan Swatch sekitar ¥ 1200 aja dan masih ada tagnya. Perhiasan merk Dior sampe Swarovski aja ga sampe 200 ribu rupiah deh. Tapi saya sendiri ga beli apa-apa karena yang saya mau ukurannya kebanyakan ga ada dan ternyata ga cocok dipake.

Setelah itu kita pun lanjut lagi ke suatu mall di daerah yang sama, tapi lumayan jauh. Duh asli lupa banget nama mall dan daerahnya apa. Disana, kami lanjut belanja perintilan lagi dan ke supermarket. Nah disini saya baru belanja karena lebih masuk budget dan belanja makanan macem KitKat, nori, dan bumbu-bumbu Jepang titipan Bunda.

Selesai belanja, matahari udah turun dan udara makin dingin. Kami berpisah sama Oma dan melanjutkan perjalanan ke the famous Shibuya. Malam itu, Shibuya rame banget padahal udah jam 9 malem. Kami pun foto-foto sama Hachiko dan di crossing itu. Sayangnya, toko-toko udah pada mau tutup di Shibuya, jadi saya cuma menyusuri jalanan setapak aja, foto-foto, dan mampir makan lagi di Yoshinoya. Setelah jalanan udah beneran sepi dan toko-toko udah pada tutup, kami pun pulang.

Shibuya

Hachiko

Fourth Day in Tokyo

Di hari keempat di Tokyo, kami memutuskan untuk mampir ke Doraemon Museum yang terletak di daerah Kawasaki. Oma yang rumahnya dekat Kawasaki pun memutuskan untuk menemani kami lagi. Dari Shinjuku Station, kami menaiki kereta ke Noborito Station. Dari situ, kami menunggu Oma untuk bersama-sama ke Doraemon Museum.

Oh iya, untuk tiket Doraemon Museum, fellow traveler ga bisa beli tiketnya langsung on the spot. Jadi harus beli di Lawson dan kemudian memilih entrance time jam berapa. Kami membeli tiket semalam sebelumnya di Lawson dekat apartemen dan dibantu oleh penjaga Lawson untuk membelinya karena ga ngerti cara pakai Loppi Machine hehehe. Kami pun memilientrance time  wjam 10.00 pagi.

Kami sendiri tiba di Noborito jam 10.20, which is 20 minutes late. Saya sempet panik dan telpon Doraemon Museum, bertanya apakah kami bisa masuk walau tiket masuk kami jam 10.00. Sayangnya, orang yang mengangkat telepon saya ngerti Bahasa Inggris, so kami pun lanjut aja ke Doraemon Museum, kalo ga boleh masuk, yaudah balik deh.

Dari Noborito Station, mencapai Doraemon Museum bisa dilakukan dengan menaiki shuttle bus atau jalan kaki. Karena malas jalan dan juga pengen nyoba shuttle bus Doraemon yang lucu, kami memutuskan untuk naik shuttle dan membayar ¥ 210 untuk sekali perjalanan. Ga susah nyari shuttle bus ini, karena ketika keluar dari Stasiun Noborito, kalian tinggal menyebrang ke halte dan menunggu disitu, bahkan kadang-kadang shuttle udah tiba disana.

Doraemon Shuttle 2

Akhirnya kami pun tiba di Doraemon Museum (eh sebenernya namanya Fujiko F. Fujio Museum sih, tapi karena karya beliau yang paling terkenal adalah Doraemon, so let’s called that) dan bertanya kepada petugas apakah kami masih boleh masuk. Dia bilang kami ga boleh masuk untuk yang jam 10 dan menunggu entrance time berikutnya, yaitu jam 12 siang. Yaudah masih untunglah boleh masuk.

Sambil nunggu jam 12 siang, kami jalan-jalan di sekitar stasiun dan mencari Lawson untuk membeli tiket buat Oma. Sayangnya mesin Loppi di Lawson terdekat rusak, jadi Oma gagal membeli tiket dan memutuskan untuk menunggu di stasiun aja.

Akhirnya jam 12 pun tiba dan kami harus mengantri lagi untuk masuk. Saat memasuki ruangan, masing-masing diberi audio guide dan kami pun mulai memasuki area exhibition yang memamerkan karya-karya komik asli dari Fujiko F. Fujio. Sayangnya semua ditulis dalam bahasa Jepang dan ga boleh foto-foto di dalam ruangan itu.

Doraemon Museum

Nah setelah keluar dari exhibition room, ada area besar yang terbagi menjadi beberapa area, kid’s space, theater, manga corner, dan area bermain. Di area bermain itu kami sempat foto-foto di Doraemon Purikura seharga ¥ 400. Lucu deh hasilnya hehehe. Oh iya, setiap pengunjung juga diberikan tiket untuk nonton Doraemon di theater, sayangnya kami ga memanfaatkan itu karena harus menghemat waktu biar masih bisa jalan-jalan lagi.

Doraemon Museum 4

Doraemon Museum 2

Naik ke lantai 3, ada museum cafe dan rooftop playground. Saya sebenarnya pengen banget icip-icip cafe, secara katanya makan dan minumannya bertema Doraemon, tapi sayang saat itu antri menjalar, jadi saya pun malas dan langsung bermain di rooftop playground. Di sini, kalian akan menemukan bertemu dengan Doraemon, Pisuke, Nobita, dan juga pipa yang ada di taman bermain yang sering muncul di serial Doraemon. Lucu banget deh pokoknya!

Doraemon

Doraemon 2

Pintu Kemana Saja

Pisuke

Dari Doraemon Museum, kami langsung melanjutkan perjalanan lagi ke Harajuku. Sore itu Harajuku memang ramai, tapi saya ga liat ada gerombolan dengan kostum aneh-aneh kayak yang diceritain orang-orang. Mungkin karena hari itu bukan malam minggu atau saya aja yang ga beruntung ketemu kali ya.

Saya memulai belanja dari GAP store yang terletak tepat di depan stasiun Harajuku dan lanjut jajan Choco Cro yang terletak ga jauh dari GAP. Choco Cro ini lumayan terkenal dan pas saya cobain, enak juga rasanya, padahal saya biasanya ga suka makan yang manis-manis.

Lanjut berjalan, akhirnya kami menemukan the famous Takeshita Street. Sore itu lumayan padat juga sih disana, tapi ga sampai penuh sesak jadi masih nyaman lah untuk dilewati. Takeshita Street ini adalah jalanan yang terkenal banget di Tokyo dan sepanjang jalan ini adalah toko-toko. Di Takeshita, saya sempet masuk ke Daiso karena ini katanya Daiso terbesar di Tokyo. Mampir juga ke Disney Store, Line Store, jajan takoyaki, dan belanja lagi di H&M dan Forever 21. Oh iya, di H&M dan Forever 21 ini menurut saya harganya lebih murah daripada di toko yang di Jakarta. Saya aja nemu sepatu dengan harga cuma ¥ 1.100, padahal di Jakarta harganya masih Rp 350.000. Mayan kan?

Takeshita Dori

Line Store Harajuku

Setelah waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam, kami akhirnya kembali ke Shinjuku Station untuk mengambil koper dan beranjak ke bandara. Dari Shinjuku Station, kami memutuskan untuk naik limousine bus untuk ke bandara, karena kami sudah ga sanggup lagi geret-geret koper naik kereta. Limousine bus ini bisa ditemukan di Shinjuku West Exit. Nanti ada tandanya kok di samping halte kalau itu adalah pemberhentian limousine bus.

Harga limousine bus dari Shinjuku ke Haneda Airport ¥ 1230 per orang. Fellow traveler ga perlu mesen tiket lagi dan cukup datang ke haltenya dan menyesuaikan jam berangkat bus yang bisa dilihat di website resminya. Busnya menurut saya nyaman banget dan perjalanan ke Haneda Airport pun cepat, hanya sekitar 40 menit.

Setelah sampai di bandara, kami pun langsung antri check in. Setelah semuanya beres, kami beli makanan di Seven Eleven sekalian ngabisin koin Jepang dan akhirnya memasuki boarding room. See you when I see you, Japan!

Advertisements

3 thoughts on “I Left My Heart in Tokyo

  1. Ahhh I also left mine there, too!
    Waktu itu cuma 2.5 hari di sana dan kurang bangett. Kamu enak 4 hari, sempet seharian ke Disneysea juga.

    Menjawab paragraf pertama, Tokyo itu memenuhi ekspektasi saya sebagai kota modern! Suka banget sama sistem transportasinya yang serba teratur dan on-time (walaupun cuma coba subways).

    Daan harga di luar sana emang suka ajaib. Saya beli short pants di H&M Ginza cuma 700 yen, begitu cek di Jakarta harganya 250 ribu! :))

    • Berarti disuruh balik lagi tuh kalo cuma 2,5 hari di Tokyo kak hahaha. Iya emang bener bgt transportasi disana top banget ya, tp suka bikin pusing sama pintu keluarnya jd sering nyasar gara2 salah exit 😀

  2. Pingback: My Ultimate Lifetime Travel Bucket List | Travel and Word

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s