Navia Azzahra Kopi, Puisi Dan Senja adalah kenikmatan yang hakiki

Mengenang Sejarah di Eyup & Pierre Loti

Berabad-abad yang lalu ketika Kesultanan Utsmaniyah berhasil menaklukkan Konstantinopel, Eyup adalah pemukiman Turki pertama mereka. Terletak dekat dengan jantung kota dan golden horn, Eyup memiliki lokasi yang sempurna, dari dulu hingga sekarang. Nama Eyup sendiri berasal dari Abu Ayyub al-Ansari, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Aku kebetulan tinggal di Konstantinopel, yang kini telah berubah nama menjadi Istanbul. Pada liburan musim dingin , aku pergi ke sana dan menjelajahi daerah tersebut . Berikut beberapa tempat yang saya kunjungi ketika berlibur ke eyup.

Masjid Eyup & Makam Abu Ayyub al-Ansari
Masjid Eyup adalah masjid pertama yang dibangun oleh orang Turki  di Istanbul yakni pada tahun 1458. Setelah orang-orang Arab mengepung kota itu, Abu Ayyub al-Ansari jatuh sakit dan meninggal. Dalam kata terakhirnya, dia meminta prajuritnya untuk menguburnya di bawah dinding Konstantinopel. Sultan Mehmet II yang menaklukkan Konstantinopel kemudian membangun sebuah makam dan masjid untuk menghormati Abu Ayyub al-Ansari.

Hari itu, halaman masjid dipenuhi kerumunan orang. Aku tidak tahu apakah itu karena akhir pekan atau ada semacam acara di sana, karena aku melihat beberapa anak mengenakan kostum. Terlepas dari keramaian, aku merasa area masjid sangat memesona. Air mancur, pohon, burung, manusia, toko, dan kafe membuat halaman masjid sangat indah.

Karena masjid itu benar-benar penuh, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar area terlebih dahulu. Di sebelah masjid, ada sebuah gang dengan banyak toko, lebih mirip sebuah pasar. Aku membeli beberapa selendang untuk ibu aku di rumah sementara temanku membeli tasbih yang sangat indah. Ada juga banyak toko yang menjual sabun dan perawatan tubuh alami. Di gang yang sama, kita juga bisa menemukan banyak makam di mana Sultan Utsmaniyah, tokoh agama, dan panglima dimakamkan. Di ujung gang, aku sarankan kamu belok kanan ke gang lain yang dipenuhi rumah-rumah imut dengan penuh warna.

Aku kemudian mengunjungi makam Abu Ayyub al-Ansari. Makam itu terletak di sisi kiri masjid. Semua pengunjung harus mengantri terlebih dahulu. Aku kemudian memperhatikan bahwa semua wanita mengenakan jilbab saat memasuki makam, jadi untuk menghormati, aku juga mengenakan jilbab. Syukurlah aku baru saja membeli syal, jadi aku memakainya. Antriannya cukup panjang dan pengap ditambah lagi dengan banyak wanita tua yang tidak sabar. Makam itu sendiri terletak di dalam masjid dan ada semacam penghalangnya. Semua pengunjung hanya diizinkan berada di luar penghalang dan mengirimkan doa-doa mereka. Beberapa barang pribadi Nabi Muhammad SAW juga ada di sana.

Pierre Loti Cafe
Siapakah Pierre Loti? aku juga bertanya-tanya nama ini, mengapa nama tersebut menjadi nama daerah dan kafe yang populer. Setelah mencari tahu di Google, aku baru tahu bahwa Pierre Loti adalah seorang novelis dan perwira angkatan laut Prancis yang jatuh cinta pada Turki. Novelnya ‘Aziyade’ merupakan cerita kisah cintanya dengan seorang wanita Utsmaniyah  bernama Aziyade .

Pierre Loti Cafe terletak di area Eyup juga. Untuk pergi ke sana dari Masjid Eyup, kamu bisa berjalan di bukit makam atau mengambil teleferik (kereta gantung). Tentu saja, aku memilih teleferik. Walaupun aku harus mengantri selama hampir satu jam, tetapi aku merasa perlu masuk teleferik itu, merasakan suasananya, dan minum teh di salah satu kafe paling indah di Istanbul. Btw untuk menggunakan teleferik, kamu dapat menggunakan Istanbul Kart dan biayanya tidak mahal.

Perjalanan teleferik bahkan tidak sampai 5 menit, tetapi aku benar benar menikmati pemandangannya. Ketika aku tiba di sana, aku langsung pergi ke kafe. Ada begitu banyak kafe yang bisa kamu pilih di sana, tetapi kebanyakan selalu memilih kafe outdoor. Sayangnya, hari itu benar-benar ramai. Aku bahkan harus menunggu hampir 30 menit untuk mendapatkan meja hanya untuk minum teh! Hari itu aku merasa sangat kesal sampai sampai tidak sempat mengambil foto kafe.

Terima kasih Tuhan, Bukit Pierre Loti memiliki begitu banyak sudut yang indah untuk mengambil foto. Percayalah, pemandangan dari sana benar-benar menakjubkan. Istanbul dari atas bukit sangat mempesona. Ketika matahari hampir terbenam, aku kembali dan memilih berjalan menuruni bukit. Jalan itu sendiri adalah kompleks kuburan, tetapi aku tidak merasa takut sama sekali. aku dan temanku bahkan berhenti berkali-kali untuk berfoto atau hanya duduk di samping makam. Akhir kata, aku akan kembali ke Eyup dan Pierre Loti. Mungkin saat musim dingin berakhir dan bunga mulai mekar.

Avatar
Navia Azzahra Kopi, Puisi Dan Senja adalah kenikmatan yang hakiki

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *