Kenali Sejarah Perbankan di Kota Tua

Akhir-akhir ini saya lagi tertarik untuk mengunjungi museum. Alasannya sih cukup mainstream, yaitu pengen hunting foto buat instagram. Hahahaha! Saya pun mencari teman untuk menemani saya jalan-jalan. Melalui grup Line, saya pun membuka wacana untuk pergi ke Kota Tua. Sayangnya, hanya beberapa orang saja yang bisa ikut, Nelly, Dita, dan Wildan karena memang cuma kami doang yang gabut diantara teman-teman yang lain masih sibuk magang.

Kamis 18 September lalu kami pun akhirnya melancong ke Kota Tua. Kami semua pun setuju untuk bertemu di halte busway Stasiun Kota. Perjalanan saya naik busway cukup memakan waktu, yaitu hampir 1,5 jam karena harus menunggu lama busway dari arah Pluit. Padahal di jalan ga macet sama sekali. Andai aja armada busway banyak dan interval tunggunya jelas.

Setelah bertemu di halte Stasiun Kota, kami pun langsung menyebrang ke Museum Bank Mandiri. Nyebrangnya ga dijalanan, tapi di halte bawah tanah yang connecting sama halte busway, stasiun kereta api, dan jalan raya. Konsepnya sama sih sama halte-halte MRT yang ada di Singapura, bahkan ada air mancurnya di tengah-tengah. Tapi sayang, sama sekali ga teratur. Bau pesing menyengat dimana-mana, banyak pengemis, pengamen dan preman yang asik nongkrong, dan air mancurnya warnanya ijo!

Masuk ke Museum Bank Mandiri, kesan pertama saya adalah gelap! Sumpah ini museum tergelap yang pernah saya masuki. Ada sih lampu dan cahaya matahari yang masuk lewat jendela, tapi entah kenapa gelap banget. Kesannya pun jadi lusuh dan berdebu sana-sini. Kami pun disambut dengan loket tiket masuk yang berbentuk jeruji teller bank jaman dulu. Untungnya, ternyata kami tidak dikenakan tiket masuk karena berstatus mahasiswa dan nasabah Bank Mandiri. Tapi tenang saja, harga tiket masuknya cuma 2000 rupiah kok!

Sedikit cerita sejarah, Museum Bank Mandiri ini didesain oleh arsitek Belanda, JJJ de Bruyn, A.P. Smits, dan C. Van de Linde. Gedung bergaya Art Deco ini dulunya adalah kantor perusahaan dagang Belanda yang bernama Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM). Setelah beberapa kali berganti menjadi kantor perbankan lainnya, pada 1999, bangunan ini resmi menjadi milik Bank Mandiri.

Kami langsung berjalan ke arah kiri museum karena ada pemandangan yang unik, yaitu beragam instalasi mesin tik, komputer, dan laptop yang dipajang di dinding. Lucu dan pas dijadiin objek untuk foto instagram!

Setelah rempong foto-foto di depan mesin tik, kami pun memutuskan untuk beralih ruangan ke ruang kaca yang menyimpan berbagai macam jenis kalkulator, dari yang manual sampe yang saat ini dipake dimana-mana. Keluar dari ruangan itu, ada tangga menuju ruangan bawah. Awalnya kami ragu-ragu untuk ke bawah, tapi karena penasaran, jadilah kami menyusuri tangga yang mengantar ke jalan bawah tanah.

Sumpah ruangan bawah tanah itu sumpek, pengap, dan remang-remang. Bahkan ada beberapa sisi yang ga ada lampu. Ditambah dengan patung-patung peraga pelaku perbankan jaman dulu semakin membuat suasana semakin creepy! Tapi karena udah terlanjur di bawah, kami pun cuek aja foto-foto di koridor bawah tanah tersebut. Berpindah ke ruang sebelahnya, ternyata adalah ruang semacam ruangan safe deposit box dimana dulu nasabah menyimpan uang atau barang berharga mereka. Bentuk lokernya bermacam-macam, ada yang kecil sampai yang besar semacam penyimpanan harta di Bank Gringgots di film Harry Potter hehehe.

Karena suasana semakin creepy setelah temen saya teriak-teriak karena tiba dikagetin rombongan anak kecil, kami akhirnya naik lagi ke atas dan muncul di sisi kanan gedung. Pas naik, kami dikejutkan sama suara mesin tik yang berbunyi. Ternyata eh ternyata, bunyinya berasal dari patung cewek yang sedang memakai mesin tik. Serem sih, secara mesin tik itu kadang bunyi dan kadang tidak, mana patungnya ga keliatan muka cuma keliatan rambut dari samping.

Koridor sisi kanan museum cukup terang dan artsy. Kami pun langsung heboh foto-foto di koridor. Apalagi suasana sepi, serasa lagi photoshoot ala ala haha.

Setelah puas foto-foto, kami beranjak ke lantai dua museum. Tangga yang kami lewati memiliki jendela besar yang terbuat dari stained glass warna-warni. Tangga dan jendela besar tersebut cukup mengingatkan saya akan gedung lainnya. Apa ya? Lawang Sewu di Semarang mungkin? Karena kemegahan jendela tersebut, kami langsung rebutan foto di jendela karena foto yang dihasilkan bergaya siluet namun megah dengan warna-warni jendela tersebut.

Koridor lantai dua pun cukup mewah dengan chandelier besar di tengah-tengah. Sayangnya, ruangan-ruangan di lantai dua ditutup, jadi kami tidak bisa masuk. Selesai sudah eksplorasi kami di Museum Bank Mandiri.

Kota Tua memang terkenal dengan banyaknya museum, mulai dari yang paling terkenal ada Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik, Museum Bank Mandiri, dan Museum Bank Indonesia. Tujuan kedua kami adalah ke Museum Bank Indonesia yang letaknya persis bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri.

Berbeda dengan Museum Bank Mandiri yang terkesan gelap, Museum Bank Indonesia terlihat sangat bersih dan terang. Gedungnya sendiri juga lebih besar dan memiliki parking space di dalamnya. Sebelum masuk ke dalam gedung, kami harus melewati metal detector dan menitipkan tas di penitipan barang. Saya sih seneng banget ada penitipan barang karena kami ga perlu bawa-bawa ransel berat ke dalam.

Masuk ke dalam Museum Bank Indonesia ini pun tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya cukup mengisi buku tamu dan menikmati informasi sejarah. Buat yang penasaran sama sejarah perbankan Indonesia, kalian bisa menyewa audio guide dengan membayar 50 ribu rupiah. Buat yang mau pre-wedding photoshoot juga bisa disini dengan tarif sekitar 1,5 juta rupiah.

Hal pertama yang kami lihat di museum ini adalah ruangan jeruji besi tempat transaksi bank. Setelah itu, kami masuk ke dalam ruangan gelap yang disambut dengan udara dingin dan dinding LCD yang penuh dengan grafis galaksi bintang-bintang dan koin jatuh. Bagus banget!

Ruang-ruang di dalam museum semakin bagus. Museum ini bahkan memiliki teater, sayang saat kami datang, tidak ada kegiatan apapun di teaternya. Masuk lebih ke dalam, makin banyak ruangan, mulai dari ruangan yang menampilkan sejarah Bank Indonesia, jalur perdagangan jaman dulu, jenis rempah-rempah yang diperjualbelikan, jenis-jenis uang, sampai baju-baju militer yang dipajang dalam bentuk yang unik, yaitu di lantai dengan kaca transparan yang dikelilingi cahaya lampu temaram. Keren abis!

Ruang-ruang berikutnya yang kami masuki terasa lebih futuristik dimana ruangan tersebut menceritakan kisah-kisah terbentuknya Bank Indonesia, pergerakan saham dan investasi, sampai kisah krisis moneter dulu. Ruangan tersebut didominasi oleh cahaya LED warna merah dan biru, selain itu juga dilengkapi dengan kaca-kaca yang semakin menambah suasana futuristik.

Akhirnya ruang-ruang keren nan dingin itu menemui jalan akhir. Kami keluar dari ruangan model tersebut dan tiba di ruang model kerja para Gubernur Bank Indonesia yang didominasi dekorasi kayu. Tak lupa juga ada foto-foto para Gubernur Bank Indonesia yang pernah menjabat.

Koridor-koridor di luar itu ternyata ga kalah keren! Saya jadi bisa melihat eksterior gedung ini yang sangat bergaya kolonial dengan dominasi warna putih dan pilar-pilar besar. Ah berasa lagi di kastil di Belanda hehehe.

Karena jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, kami akhirnya memutuskan untuk shalat dzuhur dan bertanya mushola kepada petugas kebersihan. Kami pun mengikuti arahannya dan tiba di lantai bawah bangunan. Karena kebelet pengen pipis, saya pun memutuskan untuk ke toilet dulu. Sebenarnya saya paling malas mampir ke toilet di museum-museum seperti ini. Pengalaman sih toiletnya gelap dan jorok. Tapi di Museum Bank Indonesia ini pengecualian besar! Toiletnya bersih banget kayak di mall, ada tisu, ada sabun tangan, dan hand dryer berfungsi. Lantainya bersih dan toiletnya wangi! Yang niatnya cuma pengen pipis jadi malah cuci muka dan touch up dikit deh 😛

Masjidnya ga kalah bagus. Bangunan yang dari luar terlihat seperti art gallery karena terbentuk dari kaca itu ternyata adalah sebuah masjid! Masjidnya juga bersih banget, ada kolam-kolam, taman batu kerikil, mukena bersih dan bahkan ada refill air minum. Wah asli ini baru namanya museum!

Akhirnya, perjalanan museum kami di Kota Tua berakhir di Museum Bank Indonesia. Overall, saya suka banget di Museum Bank Indonesia karena kesannya futuristik tanpa mengubah sejarah! Tapi bukan berarti saya ga suka Museum Bank Mandiri ya. Cuma, kurang terawat dan kurang penjelasan aja di  Museum Bank Mandiri, padahal koleksi-koleksinya sangat autentik.

Buat fellow travelers yang bingung mau jalan-jalan ke mana di Jakarta, mending coba sekali-sekali jalan ke museum. Jangan cuma main ke mall aja hehehe. Selain nambah pengetahuan, kalian juga bakal dapet banyak foto-foto keren yang very instagram-able! Selamat mengeksplorasi Jakarta 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s